KULON PROGO - Kelompok Penyu Abadi Trisik telah eksis menjalankan kegiatan konservasi penyu sejak tahun 2004.
Lika-liku memperjuangkan hak hidup bagi hewan perairan telah dilakukan secara konsisten.
Bahkan kelompok ini, telah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak atas pencapaiannya.
Ketua Kelompok Penyu Abadi Trisik Edi Yulianto menceritakan awal mula terbentuknya komunitasnya.
Perjalanan kelompok ini, dimulai saat tahun 2004, tepatnya ketika masih banyak masyarakat yang memburu fauna laut penyu.
Kala itu masih banyak masyarakat, terutama nelayan yang melakukan perburuan pada hewan dilindungi.
"Dulu masyarakat utamanya nelayan memburu penyu," ucap Edi, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (1/11/2024).
Edi menjelaskan, masyarakat masih banyak melakukan perburuan penyu dengan berbagai alasan.
Kala itu, daging penyu dikonsumsi masyarakat, dan bahkan menjadi hidangan favorit. Seringkali daging penyu diperjualbelikan di pasar, serta sangat mudah dijumpai.
Tak sampai di situ, telur penyu seringkali juga menjadi sasaran pemburu.
Pasalnya, pemburu yang rata-rata merupakan nelayan menganggap telur penyu layak dikonsumsi.
Telur penyu dipercaya dapat meningkatkan stamina, sehingga banyak yang rela mencari sarang penyu.
Konsumsi hewan dilindungi ini, terus dilakukan masyarakat sekitar, hingga telah membudaya dan sulit untuk dihapuskan.
"Merubah stigma dan kebiasaan itu sangatlah sulit," ucapnya.
Berawal dari keresahan atas diburunya hewan dilindungi itu, tokoh masyarakat di Kalurahan Banaran mulai mengumpulkan sejumlah orang.
Sejumlah pamong kalurahan, seperti dukuh dan tokoh masyarakat, termasuk Edi berkumpul untuk menggagas adanya kelompok pelestarian penyu.
Bermodal visi, misi, dan anggaran swadaya, kelompok pelestari berhasil dibentuk.
Awal terbentuknya kelompok pelestari dipenuhi tantangan dan rintangan.
Pasalnya, kelompok penyu memiliki visi mengubah stigma masyarakat mengenai penyu.
Masyarakat yang telah membudaya dengan perburuan penyu perlu dirubah.
Sedikit ada gejolak, skeptisme, dan meragukan tindakan kelompok ini tak jarang didengar pengurus kala itu.
Namun, kelompok pelestari tidak menggubris, dan terus berusaha memberikan edukasi untuk merubah stigma masyarakat.
Selama beberapa tahun, kegiatan kelompok berkutat pada sosialisasi ke masyarakat. Mengangkat isu penyu yang dilindungi dan sebagai pelestarian ekosistem laut, kelompok penyu rutin mengedukasi masyarakat.
Pentingnya menjaga populasi penyu terus dilakukan.
Pasalnya, populaasi penyu terus berkurang dari tahun ke tahun.
Dampaknya, penyu lekang nantinya akan punah jika tak dilesatarikan. Padahal penyu memiliki peran dalam ekosistem laut.
Tak hanya menjaga perputaran rantai makanan, penyu juga dijadikan imdikator kesehatan perairan laut.
"Butuh waktu 5 tahun agar stigma masyarakat berubah," ujarnya.
Edi menuturkan, keberhasilan kelompoknya dalam merubah stigma masyarakat terlihat di tahun kelima.
Sekitar tahun 2009, kelompoknya berhasil menjungkirbalikkan kebiasaan masyarakat, dari yang awalnya pemburu menjadi pelestari.
Anggota kelompoknya kini semakin bertambah hingga puluhan orang, berlatar belakang nelayan yang dulunya sempat memburu penyu.
Perjuangan kelompok ini terus berlanjut. Namun, semenjak stigma masyarakat berubah kelompok pelestari lebih fokus dalam pelestarian penyu.
Mereka mulai menambah bangunan konservasi seperti tempat penetasan, hingga kolam penangkaran yang dibiayai secara swadaya.
Kegiatan rutin mereka berupa penetasan telur penyu, patroli laut, penumbuhan habitat penyu, hingga penanaman pohon.
Setiap tahunnya, kelompok pelestari dapat menetaskan ribuan tukik dari hasil penetasan.
Mereka menggunakan berbagai sistem untuk mendapatkan telur penyu, seperti patroli telur, adopsi, hingga membeli telur dari temuan nelayan.
Seringkali kelompok pelestari bekerjasama dengan masyarakat umum.
Setiap tahunnya di bulan Maret, kelompok rutin membuka kegiatan patroli penyu yang dapat diikuti semua kalangan.
Tak jarang mahasiswa hingga perusahaan dari luar daerah mengikuti kegiatan pelestarian itu.
Pembaca dapat mengikuti kegiatan mereka dengan memantau informasi di Instagram @penyutrisikjogja. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva