RADAR JOGJA - Silent walking dapat didefinisikan sebagai praktik meditasi berjalan. Seseorang melakukan aktivitas berjalan sambil memusatkan perhatian penuh pada langkah, pernapasan, dan lingkungan sekitarnya. Tanpa gangguan eksternal seperti musik, suara, atau gawai.
Dosen Pendidikan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo mengatakan, silent walking menjadi tren karena dibantu dengan peranan media sosial yang besar. Tren itu menurutnya muncul karena adanya kesadaran masyarakat untuk menyehatkan diri sendiri. Silent walking dipilih sebagai pilihan ekonomis ketimbang harus mengeluarkan biaya untuk ke psikolog atau psikiater.
Walaupun secara kritis, dia mengatakan bahwa silent walking seperti pelarian. “Di satu sisi nantinya orang bisa jadi tumbuh keinginan untuk menyendiri, dia menarik diri dari lingkungan karena jenuh dengan kondisi lingkungannya yang ada,” katanya.
Grendi menyebut, silent walking juga hanya muncul pada masyarakat di lingkungan perkotaan atau yang dekat dengan modernitas. Bahkan orang di perkotaan juga memiliki tradisi yang serupa dengan silent walking, yakni mubeng beteng. Tradisi dari Kraton Jogja itu, kata Grendi, adalah silent walking dalam konteks kearifan lokal. Sama-sama dilakukan untuk merefleksikan diri.