Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Aktivitas Trail Run Bisa Menimbulkan Beragam Risiko Kesehatan, Mulai dari Heat Stroke hingga Hipotermia

Naila Nihayah • Sabtu, 21 September 2024 | 16:05 WIB

 

 

dr Arief Gustav Verdito
dr Arief Gustav Verdito

 

JOGJA - Doker umum di RS wilayah Jogjakarta dr Arief Gustav Verdito menuturkan, hal yang perlu diperhatikan saat trail run adalah keadaan cuaca panas. Hal ini berisiko terjadinya heat stroke maupun heat exhaustion. Kondisi tubuh yang lelah, bisa menyebabkan seseorang tidak bisa berlari lagi.

Arief yang juga gemar berlari ini menyebut, trail run di dataran tinggi pun juga berisiko terjadinya vertigo, sesak napas, hipotermia, hingga nyeri kepala hebat. “Bila terdapat tanda tersebut maka sebaiknya lari dihentikan,” pesan Arief yang pernah mengikuti RuntoCare 2024 dengan jarak 150 kilometer ini Jumat (20/9/2024).

Sementara Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Magelang dr Oktora Kunto Edhy menambahkan, biasanya detak jantung normal orang dewasa di kisaran 60-100 denyut per menit. "Kalau lari di alam, bisa lebih dari 80-100 denyut per menit," kata dia.

Dia menjelaskan, sewaktu berlari, seseorang akan dibebani dengan medan dan jarak yang ditaklukkan. Sehingga denyut jantung akan lebih tinggi dari biasanya untuk mengalirkan darah lebih banyak ke kaki dan paru-paru.

Rosavarindra (kiri), dr Oktora Kunto Edhy (kanan)
Rosavarindra (kiri), dr Oktora Kunto Edhy (kanan)

Kondisi itu, lanjut Kunto, sebagai bentuk kompensasi untuk mengimbangi kebutuhan tubuh karena ada beban yang harus dilampaui. Selain itu, tren olahraga lari ini juga dapat memicu berbagai kasus ringan. Seperti cedera, terkilir, overused injury, maupun dehidrasi.

Sebaiknya, lanjut Kunto, trail runner harus melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan trail run. Termasuk membawa persediaan air agar metabolisme tubuh tetap terjaga.

Menurutnya, trail run dapat menjadi satu upaya untuk relaksasi dan memperbaiki emosional. Karena salah satu cara terbaik melepas stres dan meningkatkan kesehatan mental adalah berkunjung ke alam bebas.

Baca Juga: Target di PON XXI Aceh-Sumut 2024 Tak Tercapai, Panjat Tebing DIY Lakukan Evaluasi

Trail run memungkinkan untuk berolahraga sembari healing di hutan maupun pegunungan. Sehingga trail runner dapat menikmati keindahan alam dengan cara baru yang lebih menantang.

Pemegang Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinkes Kabupaten Magelang Rosavarindra mengatakan, rute trail run memang berbeda dibanding lari pada umumnya. Karena harus menaklukkan tanjakan pegunungan, tebing curam, bebatuan, hingga wilayah berlumpur. Sehingga diperlukan kesiapan fisik yang benar-benar prima.

Asupan oksigen yang dibutuhkan tubuh, juga cenderung lebih banyak. Selain itu, dengan medan yang tidak menentu, akan membutuhkan energi ekstra. Sehingga trail runner perlu mendapat asupan oksigen lebih banyak. Apalagi, udara di tengah-tengah alam lebih murni.

Kendati begitu, trail run dapat meningkatkan kekuatan kaki. Dengan tanah yang tidak rata dapat meningkatkan kekuatan pergelangan kaki, fleksibilitas, dan keseimbangan. Berlari menuruni bukit yang curam juga bisa meningkatkan kecepatan kaki dan melatih otot. "Selain fisik, juga membutuhkan kesiapan mental. Mereka biasanya punya target, misal naik ke gunung A dalam kurun waktu tertentu," ujarnya. (aya/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#trail run #Trail Runner #heat stroke #Heat exhaustion