JOGJA - Trail run tergolong dalam kategori olahraga ekstrem. Sebab rute lari yang dilalui trail runner bisa berupa hutan, gunung, hingga sungai. Tak jarang, jalur ini pun membuat pelari mengalami cedera.
Seperti yang dialami Ahmad Hidayat, mahasiswa S3 Ilmu Kedokteran dan Kesehatan UGM. Engkel penikmat trail run ini sempat bengkak. Karena dia tidak mengenakan sepatu khusus trail run. Sedangkan jalur yang dilaluinya tergolong terjal. Setelah menanjak, dia kemudian menyusuri sungai dan memasuki hutan. "Aku sering di Sleman Utara. Di Cangkringan lalu sampai dekat Merapi. Ke Plunyon, Turgo, Girpasang," bebernya Jumat (20/9/2024).
Kondisi fisik setiap orang, pun harus diperhatikan. Sebab risiko dari olahraga ini bisa sampai henti jantung. "Terakhir saya itu jarak 15 kilometer dan elevasinya 700 meter, jadi berat banget,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dia menyarankan bagi pemula untuk tidak berpatokan pada jarak dan waktu tempuh. Pun harus memperhatikan bekal yang dibawa. "Saya suka bawa camilan tinggi gula yang cepat menggantikan energi. Misal, kurma, biskuit, energy bar," ungkapnya.
Hal senada juga dijelaskan oleh Nisa Ramsyana. Dia lebih memilih trail run karena cuaca yang cenderung tidak panas dan bising. Terlebih terhindar dari kendaraan.
Meskipun kegiatan ini hanya untuk bersenang-senang, Nisa tetap memperhatikan kondisi fisiknya. Seperti latihan angkat beban untuk menguatkan kaki seminggu tiga kali. "Aku biasanya bawa salt candy untuk elektrolit buat energi biar enggak minum banyak-banyak," urainya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita