RADAR JOGJA - Street coffee di wilayah Jogjakarta semakin mudah ditemui. Keberadaan penjaja lapak kopi pinggir jalan ini pun tak pernah sepi pengunjung. Sebab pelanggan yang mayoritas anak muda tetap bisa memenuhi gengsinya. Yakni dengan menikmati seduhan kopi asli, tapi harga terjangkau.
"Kalau tidak salah harga (street coffee, Red) mulai dari Rp 8 ribu," tutur Rahadi Saptata Abra, ketua panitia Jogja Coffee Week 2024.
Harga tersebut, separo dari harga kopi yang ditawarkan di coffee shop atau kafe pada umumnya. Namun pelanggan tetap bisa menikmati biji kopi yang langsung dihaluskan dengan mesin di tempat. “Jadi tetap ada gengsinya. Orang kita kan yang penting bisa minum kopi dan foto-foto," ujarnya.
Pengusaha street coffee ini sendiri semakin beragam. Tidak hanya dengan mobil lawas sebagai toko berjalannya, namun juga memanfaarkan sepedan hingga motor. Bahkan saat ini, sudah ada sekitar 30-an pengusaha street coffee di DIY. Namun memang belum ada komunitas spesifik yang menaungi para pengusaha tersebut. "Memang street coffee tersebar di DIY, tapi pusat atau anker-nya di Kotabaru," kata salah satu penasihat Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) itu.
Selain harganya yang relatif murah, modal yang digunakan usaha ini juga minim. Sebab tidak memerlukan biaya sewa untuk operasionalnya. "Kalau coffee shop sewa ruko di pinggiran jalan bisa puluhan juta pertahunnya, apalagi di mal," jelasnya.