RADAR JOGJA - Bagi sebagian besar orang, melakoni peran menjadi manusia dewasa agaknya melelahkan. Karena banyak hal yang perlu dipikirkan. Belum lagi segudang beban yang harus ditanggung dan sejumlah masalah yang mesti diselesaikan.
Kondisi itu membuat mereka berpikir bahwa kehidupan anak-anak dengan segala keseruannya tampak menggoda. Sehingga mereka melampiaskannya dengan membeli suatu barang semasa kecil.
Fenomena itu dikenal sebagai kidult. Beberapa waktu terakhir, istilah kidult kembali mengemuka dan ramai diperbincangkan di jagad maya. Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan sebuah situasi yang menimpa orang dewasa. Namun, kidult bukan hanya sekadar fenomena membeli mainan atau barang yang identik dengan anak-anak. Tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan emosionalnya.
Kidult merupakan akronim dari kata kid dan adult. Istilah tersebut sebetulnya sudah populer pada medio 1960-an. Namun, kembali populer saat pandemi karena banyak yang berdiam diri di rumah. Untuk mengusir kebosanan, mereka justru melampiaskannya dengan kembali menikmati mainan atau barang-barang masa kecilnya.
Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) Rayinda Faizah, kidult merupakan fenomena orang dewasa yang lebih menyukai kegiatan anak-anak. Biasanya dialami oleh seseorang dengan rentang usia di atas 20 tahun. "Maksudnya, tidak hanya berfokus pada mainan saja. Tetapi, bisa jadi terkait pola perilakunya, kebiasaan pada saat dia anak-anak, atau kedekatan dengan orang tua," bebernya Kamis (22/8).
Ssecara fisik dan umur, seorang kidult sebetulnya sudah dikategorikan sebagai orang dewasa. Tetapi masih senang menikmati kehidupan dan kebiasaan layaknya anak-anak atau remaja belasan tahun. Baik dari sisi karakteristik maupun kedekatan emosional. Satu di antaranya ditandai dengan orang dewasa yang masih tinggal bersama orang tuanya. Kondisi itu praktis dapat memengaruhi kemandirian seseorang.
Rayinda menyebut, kidult bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari keinginan bernostalgia, regresi, situasi, hingga adanya keinginan untuk memuaskan hasrat masa kecil yang belum terpenuhi. Bisa dari barang yang belum terbeli atau keinginan yang ingin dilakukan saat kecil, tetapi terkendala dengan ekonomi. Sehingga keinginan itu harus dipendam dalam-dalam agar bisa memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak.
Akhirnya, ketika sudah memiliki cukup uang dan berpenghasilan sendiri, hasrat untuk memenuhi keinginan masa kecil itu kembali muncul. Tak jarang, kidult juga dihubungkan dengan istilah inner child. Hal itu mengerucut pada emosi dalam diri seseorang yang 'menolak' untuk beranjak dewasa. Karena tidak mau kehilangan zona nyaman masa kanak-kanak yang tidak memiliki tanggung jawab besar.
Bahkan, kata dia, banyak orang dewasa yang masih suka mengoleksi mainan anak kecil. Misalnya action figure, playstation, maupun mobil-mobilan seperti Hot Wheels. Atau sekadar menonton film atau serial tentang animasi anak-anak. "Ada kepuasan tersendiri ketika keinginan semasa kecil itu bisa dipenuhi. Bisa juga sebagai sarana untuk mengenang masa kecil," terangnya.
Baca Juga: Lagi Atur Lalin, Tuna Wicara di Bantul Dianiaya Menggunakan Helm, Ada yang Keluarkan Pistol Mainan
Meski kerap berperilaku layaknya anak-anak, lanjut Rayinda, kidult tidak berhubungan dengan intelegensia atau kecerdasan seseorang. Tak sedikit pula mereka yang kidult memiliki kecerdasan dan karier yang mapan. "Tapi, mereka punya keinginan untuk melakukan perilaku yang mungkin dulu saat kecil tidak terfasilitasi dengan baik," sambungnya.
Sebetulnya, fenomena kidult terbilang wajar asal membagi porsi dengan tanggung jawab dan kewajiban sebagai orang dewasa. Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika perilaku kidult menjadi sebuah kebiasaan dan berkelanjutan. Hal itu dapat berpotensi menunjukkan defense mechanisms atau regresi.
Regresi itu, Rayinda mencontohkan, ketika pelaku kidult dituntut untuk menyelesaikan masalah secara dewasa, justru dia menempatkan diri sebagai anak kecil. Misalnya saat seseorang sedang stres. Bukannya menghilangkan sumber yang menjadikannya stres, justru dia memilih membeli mainan hanya untuk rilis emosinya. “Kalau sudah dewasa, harusnya berani menyelesaikan masalah tersebut," bebernya
Dia menambahkan, perilaku kidult sebetulnya bisa diubah dan diminimalisasi. Tergantung dari masing-masing individu. Bagaimana seseorang mampu untuk melakukan regulasi ataupun batasan. “Apakah itu perlu dibeli atau tidak. Karena itu nanti berhubungan dengan egonya. Kalau dilihat dari segi usia, mainan bukan jadi kebutuhan primer," ujarnya. (aya/eno)
Editor : Satria Pradika