Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sering Dikira Pelit pada Diri Sendiri, Frugal Living Justru Bertujuan Menggunakan Uang secara Bijak

Anom Bagaskoro • Sabtu, 6 Juli 2024 | 14:30 WIB
TERUKUR: Mencatat pengeluaran saat menerapkan frugal living bisa memudahkan untuk mengawasi setiap biaya yang dikeluarkan. Sehingga anggaran tidak digunakan untuk membeli barang yang tidak perlu.
TERUKUR: Mencatat pengeluaran saat menerapkan frugal living bisa memudahkan untuk mengawasi setiap biaya yang dikeluarkan. Sehingga anggaran tidak digunakan untuk membeli barang yang tidak perlu.

 

RADAR JOGJA - Stigma masyarakat mengenai frugal living tidak bisa dipisahkan dengan asumsi pelit terhadap diri sendiri. Padahal, frugal living justru bertujuan untuk menggunakan uang secara bijak. Hal ini, diungkapkan oleh Jalu Rahman, 29, warga Kalurahan Bendungan, Wates, Kulon Progo.

"Sering dikira pelit atau terlalu irit menggunakan uang," ucapnya saat ditemui Radar Jogja di kediamannya Jumat (5/7).

Pria berkacamata ini menjelaskan, ketertarikannya memulai frugal living berawal saat dirinya lulus kuliah dan bekerja. Namun, beberapa bulan setelah bekerja dan menerima penghasilan tetap, dirinya merasakan adanya kejanggalan. Cukup di awal, namun tak bersisa untuk ditabung.

TERATUR: Jalu Rahman yang menunjukkan catatan keuangan miliknya. Selama menerapkan konsep frugal living, dia bisa menggunakan uang secara bijak.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
TERATUR: Jalu Rahman yang menunjukkan catatan keuangan miliknya. Selama menerapkan konsep frugal living, dia bisa menggunakan uang secara bijak.ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

 

Kejadian itu terus berulang, sehingga memaksa untuk mengevaluasi penggunaan uang. Setelah diketahui adanya pola konsumtif, Jalu memutuskan menjalani frugal living pada Juni 2020 lalu. Di awal mengadaptasi pola hidup ini, Jalu seringkali kesulitan. Karena harus menahan keinginannya untuk membeli barang.

Terlebih, dia perlu mencatat keuangannya dalam sebuah buku kecil. Kemudian berpindah ke aplikasi pada smartphone sehingga konsisten. "Dulu konsumtif dan ego tinggi, dulu hampir setiap bulan beli sepatu padahal tidak digunakan," tuturnya.

Pria yang memiliki usaha pembuatan seserahan pernikahan ini mengaku, lebih menikmati hidupnya dengan cara seperti ini. Bahkan dirinya telah sepakat kepada calon istri, untuk menjalani hidup frugal. Untungnya pasangannya menerima hal itu, dan mendukung.

Menurutnya frugal living merupakan konsep hidup sederhana. Tak mementingkan gaya hidup, tetapi memiliki orientasi pada kebutuhan. Konsep ini menegaskankan individu untuk mendahulukan kebutuhan primer dibanding sekunder. Serta menekankan pada kesederhanaan diri. "Stigma masyarakat menganggap frugal living sama dengan mempersulut diri sendiri," ucapnya.

Hal ini karena banyak influencer medsos yang mengenalkan frugal living dengan menggunakan transportasi umum. Hal itu memang salah satu bentuk hidup frugal. Namun perlu dilandasi faktor kebutuhan dan urgensinya.

Cara seperti itu, tidak bisa diikutinya. Sebab usaha yang dialakoninya, operasioanal lebih hemat saat menggunakan trasnportasi pribadi. Dibanding harus menanggung kerusakan barang saat mencoba mengirim seserahan ke konsumen.


Hal ini juga berlaku, saat dirinya membeli barang. Perlu perbandingan banyak aspek. Tak hanya berkaitan dengan manfaat barang yang dibeli. Frugal living juga menekankan perbandingan harga, dan kualitas barang yang dibeli.

Saat membeli suatu barang, individu harus membandingkan harga antara beberapa toko offline dan online. "Dulu mungkin agak ribet karena harus membandingkan, tetapi sekarang menikmati prosesnya," tandasnya. (gas/eno)

Editor : Satria Pradika
#Kulon Progo #Frugal Living #uang