RADAR JOGJA - Secara teknis, kesesuaian rasio BBM solar dan udara merupakan penyebab utama asap hitam tebal bisa keluar dari knalpot mobil bermesin diesel. “Kondisi itu biasanya disebut rolling coal, di mana mesin diesel menyedot lebih banyak bahan bakar dari frekuensi yang bisa dibakar,” beber pemilik bengkel di Cangkringan, Sleman Baret Pramadhana kemarin (28/6).
Sederhananya, BBM solar tidak dapat terbakar sepenuhnya oleh mesin. Alhasil, sisa pembakaran tersebut dibuang melalui knalpot berupa asap hitam tebal mirip tinta cumi-cumi.
Terkait perawatan, Baret mengimbau pemilik mobil untuk memperhatikan turn up secara berkala. Setidaknya dua bulan sekali. Pemakaiannya juga harus benar-benar paham betul. “Kalau nggak paham atau asal pakai, mesinnya nggak akan awet. Tetapi tergantung speknya juga, ada yang acuannya untuk harian atau kompetisi,” ucapnya.
Menurutnya, cumi-cumi darat tidak hanya identik dengan mobil yang sudah dimodifikasi. “Bisa juga karena mereka yang tidak merawat kendaraan itu dengan baik,” lontarnya.
Namun alasan penyematan nama "cumi" yang serupa dengan hewan laut lunak ini, karena sama-sama mengeluarkan materi berwarna hitam. Yang tentunya dapat mengganggu objek di sekitarnya.
Bengkel milik Baret yang sudah menyediakan jasa modifikasi sejak dua tahun lalu, satu tahun terakhir semakin diminati. Mobil yang biasanya di modifikasi menjadi cumi-cumi darat berjenis Innova, Fortuner, atau Pajero. “Kalau di Indonesia trennya dari Toyota. Kalau acuan Indonesia itu dari Thailand. Nah di Thailand itu malah Isuzu,” jelas Baret.
Baret menyebut, pengerjaan modifikasi cumi-cumi darat biasanya memakan waktu tiga hingga empat hari. Untuk sparepart, kadang disediakan olehnya. Namun tak jarang dibawa sendiri oleh customer.
Sementara customer yang datang ke bengkelnya rata-rata memodifikasi cumi-cumi darat untuk harian. Sebab jika untuk kompetisi, biaya yang dikeluarkan cukup besar. “Kalau untuk kompetisi biaya mulai dari kisaran Rp 25 juta,” sebutnya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika