Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pastikan Mesin Mobil Prima saat Modifikasi Cumi-Cumi Darat

Khairul Ma'arif • Sabtu, 29 Juni 2024 | 12:50 WIB

 

HITAM PEKAT: BBM jenis solar tidak dapat terbakar sepenuhnya oleh mesin yang membuat sisa pembakaran dibuang melalui knalpot berupa asap hitam tebal mirip tinta cumi-cumi.
HITAM PEKAT: BBM jenis solar tidak dapat terbakar sepenuhnya oleh mesin yang membuat sisa pembakaran dibuang melalui knalpot berupa asap hitam tebal mirip tinta cumi-cumi.

RADAR JOGJA - Cumi-cumi darat menjadi tren di kalangan pecinta otomotif khususnya mobil sejak 2022 silam. Masih belum padam, justru peminatnya semakin menjamur. Tak terkecuali di wilayah DIY.

Umumnya, kendaraan roda empat yang dimodifikasi menjadi cumi darat adalah mesin diesel common rail yang di-tuning atau di-remap. Kondisi itu dapat mengeluarkan asap hitam pekat dari sisa pembakaran ke gas buang knalpot. Biaya modifikasinya pun cenderung murah. “Range-nya mulai dari Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta,” sebut pehobi otomotif asal Mlati, Sleman Valentino Wisanggeni, 21, kemarin (28/6).

 

Namun jika mesin ingin di-upgrade secara menyeluruh, biaya yang diperlukan hingga pulujan juta. “Bisa Rp 25 juta hingga Rp 30 juta itu hanya  untuk upgrade mesinnya saja,” tambahnya.

Valentino mengaku, sudah sejak 2022 akhir mulai melakukan remap. Terhadap mobil Innova miliknya agar menghasilkan asap ngebul bak cumi-cumi. Namun sebelumnya, dia sudah melakukan modifikasi serupa di mobil yang berbeda. “Saya senang mesin diesel itu karena walaupun sudah full spek masih bisa buat keluarga, kendaraan sehari-hari intinya buat bisa kemana-mana,” katanya.

Mahasiswa jurusan Hukum itu menuturkan, biaya perawatan cumi-cumi darat pun relatif standar. Hanya di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Kendaraan yang dimodifikasinya itu tidak hanya digunakan untuk kegiatan komunitasnya. Tetapi juga sebagai pendukung mobilitas kesehariannya. “Kemarin saya pakai untuk pulang kampung ke Malang,” tuturnya.

Akhir-akhir ini menurutnya sering disorot masyarakat karena asapnya yang sangat pekat dan tebal. Sementara untuk kegiatannya sehari-hari, dia tidak terganggu. Justru malah semakin semangat lantaran kesenangannya di dunia otomotif.


Pehobi lainnya, Muhammad Farrelalzh, 20, menambahkan, awalnya sudah bermain mesin diesel tetapi asapnya belum terlalu ngebul pekat. Lambat laun ada tren cumi-cumi darat yang dilihatnya dari media sosial. Dari situlah dia mulai menguliknya lebih jauh. “Modal Rp 2,5 juta tarikan sama performa mobil jauh meningkat,” paparnya.

Meskipun dimodifikasi, solar yang digunakan tidak boros. Asalkan pemakaiannya seperti mobil sebelum dimodif. “Kalau sering memainkan gas, makan solar banyak,” lontarnya.

Maintenance mobil cumi-cumi darat, kata Farrel, harus memperhatikan ada beberapa hal. Seperti misalnya oli mesin dan filter oli, oli transmisi, oli gardan, filter solar, dan purging. Serta pembersihan filter udara jika menggunakan open filter atau replacement. “Itu semua harus diperhatikan setiap 5 ribu atau 10 ribu kilometer,” pesannya. (rul/eno)

Editor : Satria Pradika
#lifestyle #otomotif #mobil #cumi cumi darat