RADAR JOGJA - Microneedling jadi salah satu treatment yang cukup masif dilakukan oleh perempuan. Microneedling sendiri adalah prosedur kosmetik non-invasif menggunakan jarum-jarum kecil untuk membuat luka-luka mikro pada kulit.
Dosen Tata Rias dan Kecantikan Vokasi UNY Eni Juniastuti menjelaskan, salah satu tujuan microneedling untuk merangsang produksi kolagen dan elastin. Dua protein tersebut penting membantu untuk menjaga kulit tetap kencang dan elastis.
Eni menuturkan, dengan menciptakan luka-luka kecil dari treatment ini, proses penyembuhan alami kulit diaktifkan. Sehingga meningkatkan tekstur dan tampilan kulit secara keseluruhan. "Prosedur ini sering digunakan untuk mengatasi ragam masalah kulit, dari bekas jerawat, garis halus, kerutan, dan hiperpigmentasi," katanya Jumat (14/6).
Perawatan kulit ini, lanjutnya, harus dilakukan oleh profesional. Seperti dermatolog atau ahli estetika terlatih. Namun, ada juga perangkat microneedling yang dapat digunakan di rumah. Umumnya memiliki jarum yang lebih pendek, dan mungkin kurang efektif dibandingkan perangkat profesional.
Setelah rangkaian perawatan dilakukan, biasanya kulit akan merah dan iritasi selama beberapa hari. Namun dalam jangka panjang, kulit akan berangsur halus dan bercahaya. “Dapat terlihat setelah beberapa minggu," paparnya.
Menurutnya, microneedling bukanlah prosedur yang sepenuhnya baru. Meskipun harus diakui bahwa popularitasnya memang meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja, konsep dan teknik dasarnya telah ada selama beberapa dekade.
"Microneedling modern berakar dari teknik bernama percutaneous collagen induction therapy, pertama kali diperkenalkan dokter kulit Desmond Fernandes pada 1995," bebernya.
"Namun, prosedur serupa dengan microneedling telah ada jauh sebelum itu," sambungnya.
Eni merinci, bahwa praktik medis kuno di beberapa budaya menggunakan teknik yang melibatkan penusukan kulit. Untuk merangsang penyembuhan dan peremajaan kulit.
Selanjutnya dengan berkembangnya teknologi dan pemahaman lebih baik tentang proses penyembuhan kulit, microneedling mengalami berbagai inovasi yang membuatnya lebih efektif dan aman.
Secara garis besar, Eni menyebut microneedling dianggap aman untuk banyak orang. Terutama jika dilakukan oleh profesional. Namun layaknya prosedur kosmetik, microneedling juga memiliki potensi efek samping dan risiko tertentu yang perlu diperhatikan.
"Potensi risikonya mulai dari kemerahan dan iritasi, pembengkakan, nyeri, infeksi hingga perubahan pigmentasi," urainya.
Untuk meminimalisasi risiko yang ada, Eni menyarankan beberapa hal krusial. Mulai dari memilih profesional perawatan kulit yang berpengalaman dan terlatih. Hingga mengikuti semua instruksi pra dan pascaperawatan dengan cermat.
"Penting juga menghindari paparan sinar matahari langsung dan penggunaan skin care yang keras sebelum dan sesudah prosedur," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika