Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Restorasi Sepeda Federal Lebih Dipilih daripada Beli Produk Baru, Ini Alasannya

Elang Kharisma Dewangga • Sabtu, 25 Mei 2024 | 14:00 WIB
KLASIK: Restorasi sepeda Federal kembali dipilih dan menjadi tren beberapa tahun terakhir. Cara ini dilakukan untuk mempertahankan memori akan pemilik sepeda di masa lalu.
KLASIK: Restorasi sepeda Federal kembali dipilih dan menjadi tren beberapa tahun terakhir. Cara ini dilakukan untuk mempertahankan memori akan pemilik sepeda di masa lalu.

 

RADAR JOGJA - Sejak pandemi Covid-19 melanda, banyak orang mulai mengubah gaya hidupnya. Masyarakat mulai banyak menerapkan gaya hidup sehat dengan memperbanyak porsi olahraga. Salah satunya dengan bersepeda.


Lonjakan pesepeda di Indonesia semenjak masa pandemi dibuktikan dengan stok di toko sepeda yang laris manis. Bahkan untuk model-model tertentu yang dulunya hanya menjadi grade B. Seperti halnya sepeda Federal. Tidak hanya naik, tapi juga berubah harga.


Salah satu pengguna sepeda Federal adalah Elias Dewantara. Dia mencoba untuk membangun ulang sepeda Federal lamanya. Dia mengerjakan sendiri prosesnya. Mulai dari membangun dan memasang ulang.


“Memang buat beberapa kalangan model ini sudah tidak up to date, tapi membangun kembali dengan tenaga sendiri bikin semakin istimewa,” ujarnya saat dihubungi Radar Jogja kemarin (24/5).


Sekitar 80 persen dari sepedanya dilakukan restorasi. Yang tersisa dari bawaan aslinya hanya frame, rims, dan stang. Sisanya diganti baru.


Sebelum merakit ulang, sepeda dibersihkan terlebih dulu. Lalu mengganti decal dan disemprot ulang dengan spray paint. “Alasannya biar karat nggak makin berkarat dan catnya tetap bertahan,” kata Eli, sapaannya.


Eli menyebut, setelah semua part terkumpul, dirinya juga meminta tolong temannya untuk sesekali membantu proses perakitannya. Harga beberapa part dan printilan yang dia keluarkan cukup banyak. Mencapai Rp 3,5 juta. Sebagian part juga diberi oleh teman, yang dianggap lumayan untuk mengurangi pengeluaran.


“Frame, cat, dan rims tidak ada biaya karena dicat sama teman saya. Terus frame dan rims pakai komponen lama,” ungkap warga Jogja yang merantau di Jakarta ini.
Bagian termahal dalam restorasi adalah brifter yang mencapai Rp 800 ribu. Kemudian single crank yang mencapai Rp 400 ribu. Secara total, ada 24 part yang dirakit ke sepeda Federal lamanya.

ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA


Beberapa part itu tidak dibeli dalam kurun satu waktu. Melainkan dicicil selama empat bulan. Dia mulai mengerjakan restorasi sepeda Federal sejak Januari 2021 silam hingga Mei 2021. “Saya rakit sendiri, tapi ada beberapa yang pakai jasa seperti masang jari-jari,” kata Eli.

Baca Juga: Gelar Potensi Wisata Planjan Gumregah Nyawiji Destinasi Gua Pakis, Media Promosikan Potensi Wisata Alam dan Budaya


DIa menyebut, ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri setelah berhasil membangun ulang sepeda pemberian orang tuanya itu. Meskipun sudah tergolong sepeda lama, namun tetap mampu mengibarkan kembali semangat gowesnya. Sebab, terakhir kali dia rutin gowes adalah saat masa SMA, sekitar 2013.


“Sampai saat ini atau sekitar satu setengah bulan setelah jadi, sepeda ini sudah saya pakai rutin kalau weekend buat gowes. Palingan sudah di atas 500 kilometer,” ucap lelaki 29 tahun ini.
Sementara itu, pengguna sepeda Federal lainnya adalah Ghalif Putra Sadewa. Dia mengaku telah merestorasi sepeda dari teman kerjanya sejak 2021 silam.


"Kondisinya (saat dikasih, Red) nggak bagus. Terus tak benahi bersihin, restorasi lagi,” sebutnya.


Restorasi yang dilakukan, sebagai momen pengingat masa lalu. Sebab saat duduk di bangku sekolah dasar, Ghalif sempat menggunakan sepeda Federal.


"Sepeda lama diperbaharui kayak beda saja dan history-nya, yang penting di situ," ujar pria kelahiran 1993 silam ini.
Meskipun diakuinya, restorasi sepeda Federal lebih mahal ketimbang beli produk baru. “Saya restorasi habis hampir Rp 3 juta," terangnya.


Dosen Prodi Fotografi FSMR ISI Yogyakarta itu merestorasi sepeda lamanya dengan seri Federal City Cat. Waktu yang dibutuhkan untuk merombak hampir seluruh bagian sepeda adalah dua bulan.


Mulai dari frame sepeda yang dikembalikan ke warna original. Pelek sepeda depan dan belakang, hingga operan gigi yang juga dikembalikan ke bawaan asli.


"Operan modelan lama nggak ada tulisan 1-3, jadi manual. Bahkan rem depan belakang kampasnya pakai bentuk lama, saya beli di Klitikan," tambahnya.


Sepada jadulnya dengan kombinasi warna putih itu selalu dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Baik untuk bekerja seminggu dua kali, olarahga, maupun sekadar membeli makan.
Karena terlihat lebih klasik, lanjut Ghalif, ada orang yang ingin menawar sepedanya. Tapi tidak dilepaskannya. “Pasti dia tahu dan ingat masa lalu sampai sepeda saya mau dibeli,” kelakarnya. (tyo/wia/eno)

Editor : Satria Pradika
#lifestyle #Sepeda federal #masa kecil #Restorasi Sepeda Tua #fotografi #ISI Yogyakarta #Bersepeda #gaya hidup sehat #FSMR ISI Jogjakarta #Olahraga #History