RADAR JOGJA - Bagi orang tua (ortu) siswa, kegiatan study tour dianggap penting untuk membekali anak soal budaya dan pengalaman baru. Sebab kegiatan ini mengunjungi beragam kampus mancanegara.
Hal ini diungkapkan oleh Hari Atmojo, perwakilan orang tua siswa SMAN 3 Jogja atau Padmanaba. Dia mengaku, turut serta memberikan fasilitas study tour kepada anak ke luar negeri. Karena menimbang aspek manfaat yang akan diterima buah hatinya.
"Kami para orang tua dilibatkan dalam penentuan lokasi sampai durasi study tour, dan saya rasa ini penting untuk anak-anak," katanya kemarin (17/5).
Hari memaparkan, bahwa dari susunan acara yang sudah disepakati dengan biro jasa, para siswa Padmanaba nantinya akan melakukan study tour ke empat negara kawasan Eropa. Dengan durasi hampir tiga minggu lamanya. "Ini mereka masih di sana, baru berangkat awal Mei kemarin, antara tanggal 2 atau 3 Mei saya agak lupa," paparnya.
Adapun, beberapa negara yang menjadi destinasi siswa Padmanaba adalah Belanda, Swiss, Jerman, dan Prancis. Dikatakan, bahwa salah satu hal yang mendasari Hari akhirnya mengizinkan sang anak berangkat adalah karena banyak dilakukannya kunjungan ke universitas di luar negeri.
Menurutnya, hal itu sangat penting untuk mengenalkan budaya dan mempersiapkan anak-anak jika mereka ingin masuk ke perguruan tinggi di luar negeri. "Dan anak saya juga ada keinginan melanjutkan kuliah ke sana, jadi sekalian biar tahu dulu," ungkapnya.
Sementara menyoal kocek yang harus dikeluarkan untuk study tour, Hari mengaku bahwa nominalnya juga lumayan. Yakni berkisar antara Rp 45 juta hingga Rp 60 juta. "Kalau biaya berangkat sekitar Rp 40 juta, tapi kan ada printilan lain yang disiapkan. Seperti paspor, visa, uang saku, dan lainnya," sebutnya.
Dia sendiri berharap, bahwa sang anak bisa mendapatkan ilmu baru untuk bisa meningkatkan kompetensi diri. "Kami sebagai orang tua mendukung. Dia masih kelas 11, jadi masih ada waktu persiapan," bebernya.
Penuturan lain datang dari Rahajeng Pramesi. Orang tua dari salah satu siswi di SD Muhammadiyah Sapen yang dulunya pernah melakukan studi banding ke negara Malaysia dan Singapore. Menurutnya, kegiatan studi banding ke luar negeri akan menambah pengalaman sekaligus wawasan bagi anak.
"Selain itu, anak juga bisa belajar tentang bagaimana budaya di negara lain," ujar Ajeng.
Diakui Ajeng, kegiatan study tour ke luar negeri memang memerlukan biaya yang cukup besar. Namun hal tersebut bukan menjadi masalah apabila yang didapat sang anak sepadan. Artinya, yang dilakukan tidak hanya sekedar untuk bermain saja. Namun juga bisa mendapatkan ilmu dari negara lain.
Di samping itu, jika dilihat dari sisi kualitas, kegiatan study tour ke luar negeri juga lebih memiliki dampak positif bagi anak jika dibandingkan kegiatan serupa di dalam negeri. Karena biasanya kegiatan study tour di dalam negeri hanya sekedar kegiatan untuk senang-senang saja.
"Sementara jika kegiatan study tour di luar negeri cenderung arahnya studi banding. Sehingga lebih banyak kegiatan belajarnya, sekaligus dapat berinteraksi dengan siswa-siswi dari negara lain," ungkapnya. (iza/inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita