RADAR JOGJA - Besok atau tepatnya 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Perjuangan RA Kartini untuk mewujudkan emansipasi perempuan dan kesetaraan gender pun tidak pernah mandeg. Kini banyak bermunculan sosok perempuan yang ikut berjuang dan memberdayakan perempuan lain sesuai bidang dan keahliannya. Mereka biasa disebut dengan Kartini masa kini.
Sosok pertama adalah Rizky Rahma Nurwahyuni. Menjadi seorang dalang, bukanlah hal yang mustahil. Lahir dalam lingkungan keluarga seniman membawanya muncul kecintaan terhadap seni dan budaya wayang.
"Bapak bisa dalang, almarhum simbah kakung dari bapak seorang ketoprak legendaris di Jogja dulu. Simbah putri juga dagelan. Jadi memang diruntut ada darah seninya," bebernya kepada Radar Jogja kemarin (19/4).
Sejak kecil, Rahma bersama kakaknya selalu diajak ikut pentas sang ayah Sigit Tri Purnomo. Bahkan satu keluarga diboyong untuk menyaksikan Sigit Manggolo Saputro (nama Keraton dari Sigit Tri Purnomo, Red) mendalang secara langsung.
Rahma memulai basic pedalangan dari nol saat sekolah dasar. Pengalaman yang masih diingatnya saat duduk di kelas 3 SD, saat dia belajar mendalang bersama sang ayah. "Pikiran anak-anak dulu senang dilihat banyak orang. Kebetulan pas mau ada even lomba dalang Bantul saya diajari dalang sama bapak berdurasi 15 menit,” kenang perempuan 28 tahun ini.
Tak tanggung-tanggung, sang ayah ikut membuat naskah basa Jawa untuk dihafalkan Rahma. “(Diajari, Red) gimana caranya ngeprak kaki bersila, cara megang wayang dan dikenalin beberapa tokoh wayangnya," rincinya.
Gayung bersambut, lulusan S1 Pendidikan Kimia FMIPA UNY itu mendapat juara harapan dua. Sedangkan kakaknya bertengger di juara 3. Semenjak itu, dia terus dilibatkan dalam pementasan wayang kulit oleh ayahnya. Pun dalam momen mendalang, dia berbagai tugas dengan sang ayah.
Bungsu dari dua bersaudara itu, selalu dijatah pra-acara berdurasi 30 menit untuk mengawali dalang satu pentas bersama kakaknya. Cara itu sebagai strategi untuk menarik penonton khususnya kalangan anak-anak agar turut menyaksikan pagelaran wayang kulit.
"Kita harus melestarikan kesenian itu sendiri, jangan sampai kita belajar sama orang asing," jelasnya.
Hingga kini jam terbang pentas pedalangan itu masih dilakoni Diajeng Berbakat Jogja 2018 itu meski hanya sebagai side job. Belum lama ini, dia diminta untuk mengisi mini workshop tentang pewayangan kulit untuk anak-anak SD.
"Ngisi tentang perkenalan tokoh-tokoh wayang, bisa praktik di situ juga," sebut Staf Bagia Umum & Protokol Setda Kota Jogja.
Meski profesi sampingan yang ditekuninya biasa dilakoni oleh kalangan pria, dia tak merasa minder. Sebab sudah menjadi hobi dan misinya untuk menjaga kelestarian dari seni pedalangan.
Meski telah mumpuni, Rahma tetap didampingi sang ayah saat menjalankan seni pedalangan. Sebab saat pentas, tokoh wayang dan vokal yang harus dia perankan, cara duduk yang benar, hingga mendengar ketukan-ketukan gending yang pas ternyata belum bisa lepas dari sang ayah.
"Karena saya masih tipe hafalan, belum bisa improvisasi dalam bahasa Jawa," lontarnya. (wia/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita