RADAR JOGJA - Antusias masyarakat non-muslim dalam war takjil disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya muslim, membuat suasana Ramadan berbeda dari hari biasa. Seperti yang dirasakan oleh Syancin Patuwo atau Cici.
Mahasiswi Universitas Kristen Immanuel asal Sulawesi Utara ini mengaku, selalu antusias dalam berburu takjil tiga tahun terakhir. Hal ini karena di kampung halamannya yang mayoritas beragama Kristen, membuat suasana Ramadan tidak seramai di Jogja.
"Banyak makanan yang biasanya susah dicari pas hari biasa. Dan banyak temen yang puasa, jadi seru nyari takjil bareng-bareng," katanya kemarin (22/3).
Namun, Cici juga pernah mencari takjil seorang diri. Tak tanggung-tanggung, Cici turut mencari takjil di berbagai lokasi. Seperti pasar Ramadan di Karangmalang hingga Maguwoharjo. Bahkan beberapa kali, dia pernah menyambangi Masjid Kauman dan Masjid Jogokariyan untuk mendapatkan takjil.
"Kadang aku beli mulai jam 15.00 gitu, soalnya kalo jam 17.00 terlalu ramai," ungkapnya.
Selama di Jogja, Cici akhirnya bisa merasakan suasana buka puasa bersama. Mengingat hal ini pun belum pernah dilakukan sebelumnya. “Pas SMA di Sulawesi temen-temen mayoritas Kristen, jadi nggak puasa dan bukber," tuturnya.
Penuturan lain datang dari Jeffy Immanuel, mahasiswa Kehutanan UGM. Jeffy mengaku, saat Ramadan dia tidak hanya ikut berburu takjil. Namun beberapa kali juga menjalankan puasa. Hal ini dilakukan saat sedang bersama rekan-rekannya dalam organisasi kampus. Dengan kegiatan yang mengharuskannya ikut sampai waktu sahur.
Secara kultural, Jeffy cukup dekat dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Ramadan. Sebab teman-temannya yang mayoritas beragama Islam.
Menanggapi war takjil oleh kaum non-muslim, Jeffy pun menanggapinya dengan positif. Sebab fenomena ini menunjukkan toleransi. "Di sisi lain tren itu kan juga membantu memberi rezeki para pedagang yang banyak datang dari UMKM," tandas Jeffy. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita