Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Produktivitas Sosial Jadi Tantangan Work from Anywhere

Gunawan RaJa • Sabtu, 17 Februari 2024 | 16:05 WIB

 

Sosiolog UGM Wahyu Kustiningsih
Sosiolog UGM Wahyu Kustiningsih

RADAR JOGJA - Sosiolog UGM Wahyu Kustiningsih memiliki pandangan terkait dengan tren work from anywhere (WFA). Menurutnya, perubahan pola kerja dari interaksi fisik menjadi daring ini sama-sama efektif. Namun tidak dari segi produktivitas sosial.

"Kerja sama bagaimanapun juga, masyarakat kita belum terbiasa jika tidak tatap muka," kata Wahyu kemarin (16/2).

Dosen Program Pendidikan (Prodi) S-1 Sosiologi UGM ini menjelaskan, sosiolog meyakini bahwa interaksi sosial mendekatkan pada aktivitas. Secara keilmuan, basisnya adalah masyarakat yang terhubung satu sama lain. Meskipun WFA telah difasilitasi dengan adanya kemajuan teknologi, hal ini pun tidak menjamin kerja menjadi maksimal.

"Tapi bahwa pemberi kerja atau pemilik perusahaan menganggap jika tidak WFA akan banyak cost yang harus keluar dan menjadi tidak produktif, ada benarnya," ujarnya.

Namun siapa tahu, kata Wahyu, pemberi kerja ke depan bisa memberi ekosistem yang cukup interaktif. Mengingat generasi sekarang adalah digital natives. Mereka yelah mengenal teknologi sejak dini dan telah terbiasa menggunakannya untuk mengakses informasi di kehidupan sehari-harinya.

"Bisa jadi bagi digital natives ini WFA lebih familier, dan bisa lebih produktif tanpa harus ketemu banyak orang," jelasnya.

Terlebih pemberi kerja WFA telah mempersiapkan strategi bagaimana kontrol target kerja dan jenis pekerjaan yang didelegasikan. Apakah pekerjaan yang sifatnya individu atau tim. Seperti adanya supervisor dalam pekerjaan tim.

"Artinya supervisor juga punya job khusus yang artinya berbeda me-manage orang yang bisa ketemu langsung dengan pertemuan secara daring," ucapnya.

Menurutnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah menerapkan WFA kepada stafnya. Bisa jadi ketika diterapkan di Ibu Kota Jakarta lebih produktif karena pekerja tidak terkena macet.

"Tingkat stres menjadi berkurang sehingga menjadi lebih produktif," sebutnya.

Bagi perempuan yang bekerja dan harus merawat anak, lanjutnya, WFA juga merupakan hal positif. Tidak dipungkiri, bekerja dengan cara seperti ini diminati oleh kalangan muda. "Ada kolega saya kerja di Singapura PP (pulang pergi) seminggu hanya sekali dua kali ke Singapura," bebernya. (gun/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#produktif #Work From Anywhere