Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Tren Peluang Bisnis Fesyen 2024, Ini Kata Desainer Muda Sekaligus Bos Farrah Button

Winda Atika Ira Puspita • Kamis, 25 Januari 2024 | 08:02 WIB
Pemilik Farrah Button Sutardi.
Pemilik Farrah Button Sutardi.

JOGJA - Kesuksesan brand fesyen lokal Farrah Botton tak terlepas dari peran para pelaku UMKM di Jogjakarta. Sejak berdiri 2016, belasan toko berhasil tersebar di berbagai kota yaitu Jogja, Bali, dan Tegal.

Pemilik Farrah Button Sutardi mengatakan, Farah Button merupakan contoh dari brand fesyen lokal yang berhasil dalam segi pemasaran.

"Kiprah Farah Button di industri fashion tidak lepas dari peran UMKM yang mendukung keberlanjutan bisnis kami," katanya Rabu (24/1).

Sutardi yang juga seorang desainer muda itu menjelaskan, produksi Farah Button melibatkan 300 orang yang tergabung dalam sejumlah UMKM konveksi di Yogyakarta.

Tidak hanya itu, pihaknya menerapkan sederet strategi pemasaran yang konsisten dan dinamis sesuai dengan perkembangan zaman.

“Jadikan karya sebagai poros utama di dunia fashion,” ujarnya.

Konsisten juga disebut menjadi kunci utama dalam keberhasilan pemasaran bisnisnya. Terlebih, dia konsisten dengan desain yang simpel pada 2024 ini.

Kendati demikian, pemilihan warna juga tetap menjadi fokus, sehingga konsumen bisa memilih sesuai dengan kesukaannya masing-masing.

"Pada tahun ini kami akan merilis produk fashion yang penuh warna, didominasi warna cerah dan neon," jelasnya.

Pun dia juga tidak melupakan warna netral yang soft seperti hitam, putih, dan clay sebagai warna dasar fesyen.

“Kalau pada 2023 banyak permintaan untuk produk dengan desain simple, maka pada tahun ini akan mengusung kombinasi warna pada baju sehingga terkesan ceria tetapi tetap feminin,” terangnya.

Menurutnya, ada sejumlah cara untuk memprbaharui tren model sesuai dengan eranya agar tetap diminati pelanggan.

Pertama, mengobeservasi keinginan pelanggan dengan mempelajari dinamika setahun ke belakang. Permintaan atau produk apa yang paling sering ditanyakan pelanggan.

Kedua, membuat karya tanpa meniru dan menjadi trendsetter.

“Percayalah bahwa tren yang kamu ciptakan akan diminati oleh pasarmu dengan karya hasil observasi tersebut,” bebernya.

Ketiga, menggerus kebosanan pelanggan dengan karya baru dengan menciptakan produk baru dari bahan dan desain baru tanpa menghilangkan ciri khas.

Kemudian juga, mengemas karya dengan lebih baik lagi agar tampak elegan.

Sebab, penampilan produk akan membuat pelanggan lebih sayang dengan produk yang mereka beli.

"Hand feel product baru juga penting. Pada 2024 pelanggan semakin cerdas, sehingga tingkatkan kualitas dari kualitas bahan dan jahitan serta pola yang lebih baik lagi," sambungnya.

Selain itu juga perlu memproduksi ulang produk best seller sampai permintaan terpenuhi. Sehingga, pendekatan lebih kepada pelanggan dan menjadikan pelanggan sebagai teman terbaik.

“Selalu minta masukan pelanggan terhadap produk kalian, bukan minta pujian, agar kualitas makin meningkat,” tambahnya.

Selain itu tak kalah penting, dia melanjutkan, menjalin komunikasi dengan jasa admin WA.

Tidak melulu berjualan tetapi menanyakan kabar pelanggan sebagai salah satu senjata untuk memasarkan produk.

Serta, tidak lupa untuk membuat karya baru setiap bulan agar pelanggan memiliki banyak pilihan dengan produk yang dijual.

“Jual attitude, tidak hanya produk, membuat ucapan terima kasih yang dikirim langsung ke alamat pelanggan. Jika memungkinkan dan tersedia budget, berikan gift beserta katalog terbaru," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#brand fesyen #industri fashion #UMKM