RADAR JOGJA - Fashion Lecturer and Beauty Enthusiast Kusminarko Warno menyebut, infus whitening bukanlah hal baru di dunia kecantikan. Treatment ini sudah naik daun sejak 2010 silam. Prosedur untuk mendapatkan kulit putih yang didambakan ini dengan menyuntikkan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan ke dalam lapisan kulit.
Antioksidan dalam tubuh ini, akan berfungsi mengurangi produksi melanin. Pigmen yang memberikan warna pada kulit berkurang, sehingga tampak lebih putih dan cerah.
Dia menjelaskan, suntik pemutih memang terbukti benar-benar mencerahkan kulit. Ada yang berpandangan aman, karena zat-zat yang digunakan merupakan vitamin C yang ditambah zat lain untuk kesegaran dan mengencangkan kulit.
Namun, terdapat beberapa laporan efek samping negatif yang merujuk pada penggunaan infus whitening. "Hingga kini efek samping penggunaan infus whitening masih dipelajari oleh para dokter ahli,” sebutnya kemarin (12/1).
Tetapi Dosen Tata Busana dan Pemerhati Kecantikan Fakultas Vokasi UNY ini menilai, sesuatu yang instan tentu tidak baik dan memiliki efek samping. Terlebih suntik pemutih harus dilakukan secara rutin. Jika tidak, kulit akan kembali ke warna asal.
"Jika dihentikan itu (warna kulit, Red) akan balik lagi sesuai pigmen aslinya," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu minder dengan warna kulit yang dimiliki. Jika ingin mengikuti tren dan mendambakan kulit yang lebih cerah, bisa menggunakan cara lain yang lebih alami.
"Warna kulit apapun akan cantik pada waktunya, syukuri yang ada, dan jadilah diri sendiri," pesannya. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita