RADAR JOGJA - Budaya berkain kini tengah digandrungi anak-anak muda. Bahkan, saat event-event tertentu seperti karnaval atau arak-arakan anak muda di Purworejo banyak yang berpakaian dengan balutan kain khas Nusantara.Selain menunjang penampilan agar tetap modis dan trendi, sekaligus melestarikan budaya.
Shafa Fabillah Arianti, misalnya. Saat momen-momen tertentu, perempuan 22 tahun ini tak lupa kenakan kain khususnya batik meski hanya untuk aksesoris. Menurutnya, hal itu membuatnya lebih modis. "Biasanya kalau pakai dress atau gamis, ditambah aksesoris ikat pinggang yang biasa dipakai di baju kimono (obi belt) motif batik," katanya,kemarin (29/12).
Terlebih, kain nusantara kini sudah banyak model kekinian sehingga tidak terlihat lawas. Perempuan yang akrab disapa Fafa ini tak menampik jika anak muda saat ini lebih mengedepankan fesyen. Anak muda sekarang kalau pakai yang jadul-jadul susah. “Tapi kalau dimodif, banyak yang pakai," sambungnya.
Senada disampaikan Shohifah, 26. Dia lebih senang mengenakan kain nusantara saat momen resmi. Misalnya kondangan, datang ke wisuda, ataupun acara tertentu yang mengharuskan pakaian formal. "Lebih terlihat anggun,’’ jelasnya.
Seorang aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Magelang Siska Turniawati mengakui, budaya berkain saat ini memang mulai dilakukan oleh sejumlah orang. Menurutnya, budaya ini bisa menambah kecintaan terhadap kain-kain tradisional, seperti batik. "Mungkin banyak yang mengira, batik itu hanya digunakan untuk hajatan atau kondangan," paparnya, Jumat (29/12).
Padahal, kain batik tidak hanya digunakan untuk kegiatan formal atau keagamaan saja. Tapi, kini dinormalisasikan menjadi pakaian yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari. Seperti kuliah, kerja, atau hanya sekadar main dan nongkrong. Tergantung bagaimana memadupadankannya.
Siska menyebut, sejak ramainya media sosial, tren berkain batik acap kali berseliweran di beranda. Saling memamerkan gaya berpakaian menggunakan kain batik maupun tenun yang disulap sedemikian rupa. Lantaran semakin populer, banyak mahasiswa yang turut meramaikan budaya tersebut.
Tak heran jika kegiatan kemahasiswaan yang diselenggarakan, mereka kerap menggunakan kain batik sebagai dresscode. Termasuk para pegawai pemerintahan maupun swasta. Dengan kreatifitasnya, mereka bisa memadukan budaya lokal dengan tren fesyen masa kini. Jadi, lebih terkesan gaul dan kece.
Siska menambahkan, gaya berkain dengan batik maupun tenun itu bisa dikombinasikan dengan pakaian yang lebih santai. Seperti kemeja polos yang disesuaikan dengan warna kainnya. Kemudian, bisa dilengkapi dengan sepatu kets ataupun wedges bagi perempuan. (han/aya/din)
Editor : Satria Pradika