RADAR JOGJA - Perkembangan teknologi pada aspek live streaming turut dimanfaatkan oleh para pelaku usaha. Termasuk halnya Bolosego, sebuah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang fokus pada sektor makanan yakni lauk kemasan sejak 2020 silam.
CEO yang juga tim marketing Bolosego Dyah Laily Fardisa mengungkapkan, sejak akhir 2022 Bolosego telah konsisten untuk memanfaatkan layanan live streaming dalam penjualan produknya. "Kali pertama mulai live Oktober 2022. Tapi waktu itu belum terlalu konsisten, baru Desember 2022 konsisten sampai sekarang," jelasnya kepada Radar Jogja Jumat (8/9).
Dyah menyebut, saat ini Bolosego melakukan live streaming setiap hari dengan total durasi mencapai 12 jam, terbagi dalam enam sesi. Dalam pelaksanaannya ia turut melibatkan enam host berbeda yang bertugas memandu jalannya live streaming secara monolog dengan durasi dua jam dari masing-masing host.
"Host-nya ada yang dari tim kami, ada yang memang kami hire khusus. Bahkan saya juga masih sering nge-host," tambahnya.
Diakui, penjualan produknya dari live streaming atau online sangat mendominasi dengan persentase mencapai 90 persen dari total produk yang terjual. "Penjualan kami 90 persen lewat online, baik marketplace atau live streaming, baru sisanya offline," ungkapnya.
Dalam momentum tertentu, Dyah menyampaikan durasi live streaming sangat mungkin bertambah menyesuaikan situasi yang ada. "Misalnya pada saat Ramadan, durasinya ditambah. Saat waktu sahur juga live," bebernya.
Dalam proses live streaming, ia menjelaskan dirinya tidak mau melakukan promosi dengan banting harga. Menurutnya, kualitas jadi urgensi yang lebih penting, alih-alih menurunkan atau membanting harga.
"Pas live streaming malah yang kasih promo itu platform-nya. Jadi pembeli dapet potongan harga, tapi kami tetap terima harga normal," katanya.
Terpisah, tim finance Bolosego Mei Mutlimah menjelaskan, secara umum ada jam-jam tertentu di mana para penonton live lebih banyak dibanding jam lainnya. "Salah satunya jam makan siang. Biasanya ramai penontonnya," terangnya.
Perihal platform dan teknologi yang terus berubah, Mei maupun Dyah mengaku tak terlalu mengkhawatirkan perubahan yang terjadi. Mereka mengaku siap untuk terus beradaptasi dengan segala perubahan platform yang ada.
"Siap dan harus bisa adaptif, karena kami percaya ketika satu platform redup pasti ada lagi yang naik," tuturnya. (iza/laz)
Editor : Satria Pradika