Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Istilah Bushcraft, Lebih ke Natural Crafting, Diminati untuk Healing

Wulan Yanuarwati • Sabtu, 15 Juli 2023 | 13:30 WIB

 

LEPAS PENAT: Bayu Sejati bersama rekannya melakukan kegiatan bushcraft di wilayah sungai. Dalam kegiatan itu, dia memasak dengan memanfaatkan bahan dari alam sekitar.Dokumentasi Bayu Sejati
LEPAS PENAT: Bayu Sejati bersama rekannya melakukan kegiatan bushcraft di wilayah sungai. Dalam kegiatan itu, dia memasak dengan memanfaatkan bahan dari alam sekitar.Dokumentasi Bayu Sejati

RADAR JOGJA - Belakangan ini, bushcraft mulai digandrungi masyarakat. Meski demikian, istilahnya pun belum banyak diketahui secara luas. Sekilas hampir sama seperti survival. Namun ternyata berbeda. 

Kegiatan survival merupakan usaha untuk bertahan hidup di hutan atau lokasi lain yang terpencil. Sedangkan bushcraft, lebih mengarah kepada natural crafting atau membuat sesuatu dari alam. Dengan tetap menggunakan kemampuan dasar survival sebagai keahlian hidup di alam.

Salah satu penggiat bushcraft adalah Bayu Sejati, 36, warga Kota Jogja. Dia mengaku telah menggeluti bushcraft sejak lama. Apalagi dia memiliki basic seorang mahasiswa pecinta alam (mapala), yang lekat dengan kegiatan survival maupun brushcraft. 

"Awalnya dari mapala, suka camping akhirnya dengan kesibukan kerja maka menyisihkan waktu camping di hutan. Upaya healing, kepenatanku karena dunia kerja bosen," bebernya Jumat (14/7/23).

Namun kegiatan bushcraft yang dia lakukan tidak sekadar terlihat masak di alam atau hanya membuat konten saja. Sebab ada beberapa upaya konservasi. Misalnya saat melakukan kegiatan itu, Bayu melakukan beberapa misi melestarikan alam.

"Kita ada misi penanaman pohon, pelepasan burung, satwa endemi dari swadaya sendiri. Nanam pohon jati, burung endemik seperti emprit, kutilang, perkutut. Beli dan lepaskan," ungkapnya. 

Bayu menggandeng rekannya dalam kegiatan tersebut. Rekannya yang juga kebetulan seorang chef dari Bali. Mereka berkolaborasi dengan misi yang beragam. Berupa upaya healing, melepas penat, membuat konten hingga upaya konservasi kecil-kecilan. 

"Banyak ngonten di sosmed kan, lihat banyak yang nebang pohon. Nah kita justru menanam pohon, biji. Ketika aliran sampah di sungai, kita angkut, kita pulang bawa sampah. Target bikin plang dan pesan moral jangan menembak burung," tegasnya. 

Termasuk upaya mengingatkan orang lain, pentingnya kembali ke alam. Dan pentingnya menyerap energi positif di alam, di tengah kesibukan sebagai manusia.
Sementara itu, Dian, 35, warga Kulon Progo mengaku sesekali melakukan kegiatan bushcraft. Alasannya sederhana saja, untuk kembali ke alam setelah aktivitas sehari-hari yang menguras tenaga.

"Dulu saya mapala pas kuliah. Cukup familiar karena mirip survival kan. Sekarang anak udah dua, paling sesekali ke alam ya bushcraft sambil bawa anak. Biar tetap waras di tengah kesibukan," tuturnya. (lan/eno)

Editor : Satria Pradika
#lifestayle #Natural Crafting #Bushcraft #mapala