Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifuddi menjelaskan, beberapa hari lalu pihaknya telah menerima audiensi dari Paguyuban Kos Terbah Serut.
Dalam audiensi itu, pemilik kos khawatir dengan usahanya yang terancam akibat pemindahan ratusan mahasiswa dari Kampus Wates.
"Intinya pemilik kos khawatir, hasil audiensi segera kami tindaklanjuti," ucap Aris, Minggu (1/3).
Aris menjelaskan, audiensi akan menghasilkan rekomendasi dari DPRD Kulon Progo. Arah rekomendasi berupa dorongan ke Pemkab Kulon Progo untuk menjalin komunikasi dengan Kampus UNY.
Tujuannya, meminimalisir pemindahan prodi yang berdampak ke pengurangan mahasiswa.
Langkah ini diambil mengingat ekosistem seputar Kampus Vokasi UNY Wates telah terbentuk.
Radius satu kilometer dari kampus, telah terbentuk ekosistem usaha. Tak hanya di sektor hunian atau kos, sektor barang dan jasa ikut bergantung dengan aktivitas kampus.
"Ekosistemnya sudah terbangun, tinggal menjaga agar aktivitasnya tetap terjaga," ujarnya.
Aris menegaskan, keberadaan kampus di Bumi Bianngun menjadi titik keramaian baru. Bagi masyarakat, kondisi itu menjadi peluang usaha. Sedangkan dari pemkab, akan mendapat pendapatan dari sektor pajak ataupun retribusi. Sehingga, kerjasama antara pemkab dan kampus harus terbangun.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumberdaya Fakultas Vokasi UNY Adeng Pustikaningsih membenarkan pemindahan 11 prodi vokasi UNY. Pemindahan hanya digelar untuk mahasiswa tahun ajaran baru 2026/2027. Sehingga, masyarakat tak perlu khawatir dan resah atas perpindahan tersebut.
"Kami berterimakasih atas respon masyarakat, keberadaan kami ternyata memberi dampak positif," ungkapnya.
Adeng mengapresiasi kepedulian masyarakat atas rencana pemindahan 11 prodi. Respon masyarakat itulah, yang menunjukkan UNY sebagai titik nadi perekonomian masyarakat. Pihaknya memastikan, Kampus Wates tetap akan berfungsi sebagaimana mestinya, walau terjadi pemindahan prodi. (gas)
Editor : Bahana.