
KULON PROGO – Jumlah konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite membuat antrean di sejumlah SPBU tak terhindarkan. Sejumlah masyarakat di Kulon Progo mencari alternatif menghindari panjangnya antrean dengan mencari SPBU yang relatif sepi. Hal ini terlihat di SPBU Wates Perumda Aneka Usaha.
Salah satu pengendara motor Siti Khoriyah mengaku sengaja mencari pertalite di SPBU Wates. Lantaran, SPBU tersebut dinilai memiliki antrean yang tak terlalu panjang. Perempuan asal Kapanewon Temon itu, hanya menunggu giliran 5-10 kendaraan di depannya. Total waktu untuk mengantre pertalite mencapai 10 menit.
"Di mana-mana antre pertalite, SPBU dekat rumah juga antre panjang, jadi mencari yang antreannya tidak panjang," ucap Siti, Senin (19/10).
Baca Juga: Pemprov DIY Branding Baru Malioboro Mulya, Dorong Pembangunan dan Penataan Kawasan Sumbu Filosofi
Beberapa SPBU di sekitar rumahnya sering didapati antrean saat jam sibuk. Seperti saat masuk kerja, makan siang hingga sore hari. Saat di jam sibuk, ia sengaja mencari alternatif SPBU lain yang minim antrean.
Hal serupa juga diungkapkan, pengguna sepeda motor Sunarti yang mengisi BBM di SPBU Wates.
Dia mengaku sering mendapati antrean panjang saat mengisi BBM jenis pertalite. Kini Narti mulai banyak mengisi BBM di SPBU Wates dibanding SPBU lain, dengan pertimbangan menghemat waktu. "Kalau antre lama membuat terlambat, kalau di sini menunggu antreannya lima sampai 10 menit," ungkapnya.
Narti mengaku, akhir-akhir ini sering berpindah-pindah mencari SPBU dengan minim antrean. Jika di SPBU Wates menumpuk antrean, ia kerap berpindah di SPBU Beji yang jaraknya kurang lebih dua kilometer. Apabila kedua SPBU itu sama-sama antre, dirinya lebih memilih mengisi BBM di penjual eceran.
Baca Juga: Mahasiswa Desak Usut Dugaan Kekerasan Demo di Cik Di Tiro, Tujuh Mahasiswa Jadi Korban
Kepala Unit SPBU 44.55.602 Wates Linda Kusdahliyana menyampaikan, pasokan BBM jenis subsidi dan non subsidi tak terkendala. Sejauh ini, SPBU Wates mendapat kiriman reguler untuk BBM jenis pertalite, solar, pertamax, dan pertamina dex. Pengiriman beragam jenis BBM bergantung permintaan SPBU, biasanya seminggu dua hingga tiga kali pengiriman dari Pertamina.
Linda menyampaikan, lonjakan konsumsi BBM jenis pertalite telah terjadi sebulan yang lalu. Oktober 2026 ini, manajemen SPBU mencatat konsumsi pertalite mencapai 11 hingga 12 ton perhari. Padahal di bulan sebelumnya, konsumsi pertalite hanya sekitar delapan hingga sembilan ton perhari.
Lonjakan permintaan pertalite ini, membuat manajemen meningkatkan jumlah pemesanan pasokan BBM subsidi ke pertamina. Biasanya, SPBU menerapkan skema permintaan delapan ton, kini berganti menjadi 16 ton permintaan.
Baca Juga: PSIM Belum Menang, Iksan Minta Dukungan Suporter dan Harap Tim Kembali ke Jalur Kemenangan
Lonjakan konsumsi pertalite, juga terlihat jelas pada area SPBU Wates. Lantaran, jumlah kendaraan yang masuk ke SPBU diperkirakan mengalami peningkatan. Selain itu, antrean kendaraan juga mengular hingga puluhan meter menuju Jalan Wates-Purworejo.
Menanggapi kondisi itu, manajemen menghidupkan seluruh dispenser BBM untuk mempercepat proses antrean. "Biasanya antrean panjang saat masuk jam kerja, istirahat siang, dan pulang kerja atau bubaran pabrik," ucapnya.
Manajemen SPBU mengupayakan agar pembeli tak menunggu antrean cukup lama di jam-jam sibuk. Pihaknya memiliki rata-rata durasi antrean di jam sibuk sekitar 5-10 menit. Skema yang diterapkan dengan menghidupkan seluruh dispenser BBM subsidi, dan menugaskan semua operator di setiap dispenser.
Dia mencatat, rerata konsumsi BBM jenis pertamax tak mengalami penurunan. Konsumsi harian BBM jenis pertamax berkisar dua ton. Kondisi itu, menunjukkan lonjakan konsumsi BBM jenis pertalite bukan disebabkan oleh harga pertamax yang mahal. (gas/pra)