KULON PROGO - Program normalisasi Sungai Serang oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) mulai membuahkan hasil.
Pasalnya, ribuan kubik sedimentasi berhasil diangkat dan sebagian menjadi tanggul tanah. Namun, tanggul tanah tersebut diminta tak ditanami apapun oleh masyarakat sekitar.
Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (PPK OP SDA) II BBWSSO Sutrisno menyampaikan, program normalisasi Sungai Serang telah dilakukan sejak tahun 2025.
Normalisasi menyasar aliran sungai yang melewati Kapanewon Wates. Nantinya, program tersebut akan berlanjut di tahun anggaran selanjutnya.
Baca Juga: Ronaldo Diskor Portugal Akibat Tindakan Indisipliner Tinggalkan Kamp Pelatih Tim Nasional
"Salah satu pekerjaan normalisasi ada di Kalurahan Giripeni dengan panjang 557 meter, jumlah sedimentasu 28 ribu meter³," ucap Sutrisno, Minggu (11/10).
Sutrisno menyampaikan, normalisasi berfokus pada pengerukan dasar Sungai Serang. Hasilnya, sedimentasi yang lama mengendap di dasar akan diangkat.
Sebagian sedimentasi yang berupa tanah digunakan untuk kepentingan Pemkab Kulon Progo, tepatnya pengurugan Stadion Cangkring.
Selain untuk pengurugan stadion, sebagian sedimentasi dipergunakan untuk memperkuat tanggul tanah di sempadan sungai.
Penambahan tanah di sempadan sungai ini dilakukan bersama dengan perapihan. Tujuannya, agar tanggul tanah mampu menahan laju aliran air saja terjadi banjir.
"Memang sengaja kami rapikan, tapi tidak boleh ditanami," ucapnya.
Kini sempadan sungai telah diperkuat dengan tanggul tanah yang terlihat luas dari sebelumnya. Kendati luas dan lebih rata, BBWSSO meminta agar masyarakat tak mengolah tanah diatas sempadan. Pasalnya, pengolahan tanah untuk pertanian membuat tanggul kehilangan kekuatannya.
Pertanian di atas tanggul sering kali dilakukan oleh masyarakat sekitar. Namun, masyarakat tak sadar tindakan tersebut membuat tanggul tanah labil akibat dicangkul.
Padahal dalam perapihan tanggul, BBWSSO telah melakukan pemadatan tanah. Tujuannya mencegah erosi tanah saat terjadi kenaikan debit air.
Baca Juga: Urine Pendaki Everest Diperkirakan Picu Pencairan 154 Ton Es, Peneliti Soroti Limbah di Gletser
Praktek pertanian di tanggul tanah sungai, turut membuat fungsi sungai tak tercapai.
Pasalnya, jalur aliran air akan terganggu oleh pohon. Apalagi jika masyarakat menanam pohon keras di dalam sungai. Saat musim hujan, kondisi tersebut dapat memicu luapan air hingga banjir.
Sementara itu, Lurah Giripeni Iswanto Adi Saputro menyampaikan, terimakasih atas program normalisasi sungai. Pasca normalisasi, pihaknya berkomitmen untuk menjaga kondisi sungai. Utamanya menghimbau warga agar tak melakukan aktivitas pertanian di tanggul sungai.
"Memang masyarakat memiliki kebiasaan bertani di lahan sungai yang sedang surut," ungkapnya.
Kebiasaan bertani di sungai diakui kerap terjadi. Lantaran, warga beranggapan pertanian di sungai saat kemarau lebih mudah dalam perawatnnya.
Mengingat akses air untuk pertanian dapat diambil langsung dari sungai. Namun, kondisi itu justru membuat aliran sungai terganggu selama musim penghujan. (gas)
Editor : Bahana.