KULON PROGO - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda DIJ melakukan uji coba distribusi menu makan bergizi gratis (MBG) model prasmanan. Penerapannya di SD Muhammadiyah Bantar, Kalurahan Banguncipto sejak Senin (5/10) lalu.
Pantauan Radar Jogja, hari keempat uji coba MBG model prasmanan digelar dengan lancar. Menu MBG sampai di sekolah sekitar pukul 08.45, Jumat (9/10). Mobil box pengantar kemudian mendistribusikan puluhan ompreng MBG ke dalam sekolah. Termasuk termos berisikan nasi dan wadah saji prasmanan yang tersegel rapi turut diturunkan dari kendaraan pengangkut.
Petugas SPPG yang telah menggunakan APD, lantas melakukan pengecekan makanan yang hedak dikonsumsi siswa. Khusus menu prasmanan, petugas membuka segel wadah dan melakukan pengecekan mendalam. Paling utama pengecekan suhu makanan, menggunakan termometer makanan.
Baca Juga: Padat Karya Kabupaten Bantul Sasar 302 Lokasi, 3.224 Pekerja Terlibat di 124 Titik
Setelah memastikan makanan aman, lima siswa diminta mengenakan APD, seperti masker, tutup kepala, hingga celemek. Mereka bertugas sebagai pemorsi makanan. Sebelum bertugas, mereka terlebih dahulu diajarkan untuk melakukan pemorsian mandiri. Setelah dianggap bisa, siswa mulai mengantre untuk mendapat menu MBG.
Walau sedikit kaku, kelima siswa dapat melakukan pemorsian dengan sesekali dibantu petugas SPPG. Pemorsian makanan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Makanan baru biaa disantap sekitar pukul 09.20.
Baca Juga: Terima Surat dari LPSK, Polda DIJ Masih Dalami Kasus Dugaan Perzinaan Pengurus Ponpes Ash-Sholihah
Kepala SPPG Polda DIJ Suci Rahayu menyampaikan, uji coba MBG model prasmanan dimulai sejak 5 Oktober hingga 16 Oktober mendatang. Targetnya, adalah siswa SD Muhammadiyah Bantar yang duduk di kelas 5 dan 6, sejumlah 47 siswa.
Selama uji coba pihaknya akan terus melakukan evaluasi. Terkait kelanjutan pasca uji coba, SPPG masih menunggu arahan. "Sejauh ini pelaksanaannya lancar, semoga uji coba ini bisa berdampak postif untuk keberlanjutan program," ucapnya, Jumat (9/10).
Suci menyampaikan, sepanjang uji coba tak ditemukan kendala yang berarti. Lantaran, SPPG hanya perlu menyesuaikan diri. Terutama menyiapkan makanan yang disajikan langsung dengan cara prasmanan. Termasuk menyiapkan petugas yang turut hadir melakukan pengecekan makanan.
Dari segi pelaksanaan, operasional MBG model ompreng dinilai lebih praktis. Lantaran, SPPG cukup melakukan pemorsian di dalam dapur. Sedangkan, model prasmanan menerapkan pemorsian di luar dapur, tepatnya di sekolah.
Kendati berbeda, sistem keamanan pangan tetap terjamin dan sesuai regulasi dari BGN. Uji coba MBG prasmanan, sebenarnya dilakukan untuk menentukan skema agar menu MBG disantap saat hangat. Di samping itu, pertimbangan terkait kenyamanan siswa dari segi porsi makanan. (gas/laz)
Sumber : Radar Jogja