KULON PROGO - Pemerintah pusat kembali mengucurkan puluhan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke kelompok tani di Bumi Binangun. Kendati akan memudahkan dalam meningkatkan produktivitas pertanian, beberapa jenis alsintan justru dinilai tak cocok untuk kebutuhan lahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Heni Hernawati menyampaikan, 42 kelompok tani menerima 42 unit alsintan. Dari puluhan unit tersebut, alsintan berupa 18 unit traktor, lima unit combine harvester, lima unit pompa air, dan empat unit power thresher.
Puluhan unit alsintan tersebut berasal dari program aspirasi DPR RI. Sedangkan bantuan lain berasal dari utusan khusus presiden menyalurkan delapan traktor singkal, satu unit rice transplanter, dan satu unit traktor roda empat.
Baca Juga: Libas Stero 44-8, Putri Bosa Melaju Mulus ke Fantastic Four
"Rerata lahan pertanian di Kulon Progo sempit, jadi memang butuh penyesuaian," ucap Heni, Selasa (6/10)
Heni menyampaikan, arahan bupati meminta pemanfaatan bantuan alsintan dilakukan secara optimal. Di sisi lain, bantuan alsintan dengan jenis tertentu tak mudah diadaptasikan di Kulon Progo. Mayoritas kepemilikan lahan di Kulon Progo relatif sempit di sektor pertanian.
Misalnya, combine harvester yang tak cocok untuk penggunaan di lahan sempit. Lantaran, combine harvester optimal digunakan di lahan luas agar memudahkan manuver kendaraan panen tersebut.
Baca Juga: Wisata Sejarah Medan: Mampir ke Taman Sri Deli di Dekat Istana Maimun
Pihaknya menerapkan skema pengelolaan terpadu agar operasional bantuan alsintan dapat optimal. Skema ini diterapkan dengan cara menggabungkan hamparan lahan sawah dalam penggunaan alsintan bantuan. Contohnya, combine harvest digunakan oleh beberapa kelompok tani dalam satu luasan bidang tanah.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyampaikan, ungkapan apresiasinya atas penyaluran bantuan alsintan. Pihaknya meminta agar bantuan dioptimalkan penggunaannya.
Walaupun dari segi jenis alsinta tidak sesuai dengan karakter lahan di Bumi Binangun. Ketidaksesuaian alsintan disebabkan oleh jenis bantuan yang berasal dari program aspirasi. Hal ini berbeda dengan bantuan hasil usulan pemkab yang disesuaikan dengan karakter lahan di daerah.
Baca Juga: Dosen Stipram Nilai Wisata Pantai di DIY: Gunungkidul Melaju, Bantul dan Kulon Progo Punya Tantangan
"Kasus seperti sudah terjadi, beda dengan usulan pemkab yang biasanya menyesuaikan dengan kebutuhan petani," ungkapnya.
Agung mencontohkan, penggunaan bantuan alsintan combine harvester baru optimal apabila digunakan di lahan dua hektare. Sedangkan, mayoritas petani di Bumi Binangun tak memiliki lahan di atas satu hektare. Alhasil, penggunaan alsintan harus dilakukan secara berkelompok dengan luasan yang memadai. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo