KULON PROGO - Kemarau panjang membuat warga Padukuhan Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih mengalami krisis air bersih. Warga kini hanya mengandalkan bantuan air bersih, setelah sumber air sumur bor sedalam ratusan meter tak berfungsi optimal.
Dukuh Watu Belah Sutatik menyampaikan, krisis air bersih seakan menjadi agenda rutin tiap tahun, selama musim kemarau di wilayahnya. Pasalnya, wilayahnya merupakan dataran tinggi dengan geografis perbukitan. Di samping itu, wilayahnya tak memiliki sumber mata air, seperti sendang atau sumur alami.
"Di padukuhan kami memang kesulitan air, total ada sekitar empat RT, atau sekitar ratusan KK," ucap Sutatik, Minggu (27/9).
Sutatik menyampaikan, krisis air mencakup seluruh wilayah rukun tetangga (RT). Namun, wilayah terdampak paling tinggi ialah RT 45. Wilayah tersebut berada di perbatasan Kalurahan Jatimulyo,
Kapanewon Girimulyo yang merupakan daerah perbukitan. Wilayah perbukitan andesit di Sidomulyo mayoritasnya tak memiliki sumber mata air alami. Sehingga, di luar musim kemarau, warga bergantung pada penampungan air hujan dan sumur dangkal di setiap rumahnya.
Baca Juga: Terlepas Penampilan Kurang Maksimal di Liverpool, Jurgen Klopp Berharap Wirtz Menjadi Diri Sendiri
Saat musim kemarau tiba, warga akan selalu kesulitan air bersih. Sebenarnya warga telah berupaya mengatasi krisis air bersih saat musim kemarau. Salah satunya dengan pembangunan sumur bor sedalam 120 meter. Sumur bor tersebut sempat berfungsi dan berhasil mengairi rumah. Namun, debit air surut tiba-tiba saat kemarau.
"Ada dua titik sumur bor, rencananya dulu untuk pamsimas, ternyata saat kemarau airnya surut," ungkapnya.
Warga yang telah membangun sumur bor terpaksa gigit jari selama musim kemarau. Kedalaman sumur ratusan meter tak membuat suplai air selama kemarau terjamin. Padahal rencananya, warga akan menggunakan sumur tersebut sebagai tulang punggung air bersih harian.
Kini, setiap musim kemarau melanda, warga hanya bergantung bantuan air bersih dari pemkab ataupun instansi lain. Bantuan air bersih biasanya menyasar wilayah rukun tetangga setiap tiga hari sekali.
Bantuan tersebut setidaknya mampu mencukupi kebutuhan pokok air bersih warga. Pihaknya berharap, Pemkab Kulon Progo memberikan bantuan permanen sumur bor. Pasalnya, jika hanya bergantung pada bantuan air dari pemerintah, kebutuhan warga dipastikan tak terpenuhi.
Salah satu warga Sutinah mengeluhkan kesulitan mengakses air bersih. Krisis air bersih sebenarnya telah terjadi cukup lama. Beragam upaya telah dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya pembangunan sumur. Namun, upaya pembangunan terkesan gagal setelah debit sumur mengalami penurunan.
Baca Juga: Liverpool Resmi Menunjuk Kembali Julian Ward sebagai Direktur Olahraga
"Sumur bor kalau kemarau tidak keluar airnya, kalau pas keluar air biasanya bayar Rp 20 ribu untuk listrik," ungkapnya.
Sutinah menjelaskan, selama musim penghujan sumur bor bisa beroperasional. Selama itu pula, warga akan membayar Rp 20 ribu untuk mengakses air bersih dari sumur bor. Uang tersebut digunakan untuk membayar listrik pompa selama enam jam per hari. (gas)
Editor : Bahana.