KULON PROGO - Sebelum era mesin disel masuk ke sektor pertanian, petani di DIJ memiliki cara unik dalam merontokkan padi. Padi yang belum terpisah dari gagangnya akan dirontokkan menjadi gabah menggunakan alat sederhana bernama erek. Alat ini sejatinya menjadi cikal bakal tleser perontok padi bertenaga mesin disel.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Giripeni Kulon Progo Untung Suharjo menyampaikan, kejayaan erek atau alat perontok padi sekitar tahun 90-an hingga 2000-an. Saat itu, erek menjadi alat yang canggih di masanya. Munculnya erek merupakan jawaban atas permasalahan yang kerap dialami petani saat itu.
Baca Juga: Dari Scroll hingga Checkout, Kebiasaan Belanja Online Diam-Diam Mengubah Gaya Hidup Anak Muda
"Sebelum ada erek, petani merontokkan padi dengan digebyok, gagang padi dipukulkan ke bambu atau batu agar padi rontok," ucap Untung saat ditemui Radar Jogja, Jumat (11/9).
Metode gebyok kala itu mengandalkan tenaga manusia. Untuk merontokkan padi dalam skala satu hektare lahan dibutuhkan puluhan orang agar pekerjaan segera selesai. Bahkan beberapa petani yang memilki lahan luas, perlu menyewa petani lain agar proses tersebut segera rampung dalam hanya satu atau dua hari.
Munculnya erek di kala itu terbilang revolusioner. Pasalnya, erek mampu memudahkan pekerjaan petani. Dari segi bentuk dan desainnya, erek terbilang simpel. Erek terdiri dari tiga bagian, yaitu rangka, perontok, dan penggerak.
Bagian rangka biasanya berbentuk sederhana kotak dengan bahan seng dan kayu. Sedangkan bagian petontok, berbentuk silinder dengan penghubung kayu. Bagian perontok ini identik dengan logam seperti paku yang tertanam dalam kayu penghubung, fungsinya digunakan untuk menarik dan memisahkan gabah dari gagang jerami.
Baca Juga: Bukan Cuma Bakpia, Pukis Jogja Ini Jadi Buruan Oleh-Oleh Meski Cabangnya Sudah di Mana-Mana
Untuk menjalankan perontok, petani akan memedal bagian penggerak yang bentuknya mirip sepeda. "Penggunaannya seperti mengayuh sepeda. Hanya saja ini satu kaki, kalau dipedal perontoknya berputar," ungkapnya.
Erek identik dengan pedal sepeda yang sebenarnya memilki peran krusial. Pergerakan yang konstan, membuat pekerjaan merontokkan padi lebih mudah. Kebanyakan petani saat itu, mampu menyelesaikan pekerjaan panen hingga menjadi gabah cukup dengan sehari kerja.
Kendati begitu, erek memilki kekurangan dalam hal residu. Penggunaan erek yang melepaskan padi dari jerami membuat residu jerami terkadang masuk ke dalam gabah. Petani akhirnya perlu menyaring kembali hasil gabah mereka. Di samping itu, bulir padi yang masih kosong ikut terbawa ke dalam hasil panen. Berbeda dengan metode gebyok hanya merontokkan padi yang berisi. "Tapi erek sangat efisien waktu pada zamannya, dan hanya sedikit petani yang memiliki," ungkapnya.
Untung menyampaikan, tak sembarang petani yang memiliki erek padi. Lantaran hanya petani yang bermodal besar memiliki alat tersebut. Sekitar tahun 90-an, harga erek tergolong mahal sekitar ratusan ribu rupiah dalam kurs saat itu. Sehingga, petani bermodal besar dan memiliki lahan luas yang memiliki alat tersebut.
Baca Juga: Terima Mushaf Al-Quran Gontor, Prabowo Tegaskan Pesantren Jangan Berpolitik Praktis
Erek ynag sederhana ternyata sempat menjadi primadona bagi petani. Bahkan saat seorang petani memiliki erek, maka mereka kerap dipesan untuk meminjamkan alat tersebut. Bahkan setiap erek memiliki jadwal peminjaman tersendiri.
Selain itu, erek menjadi investasi jangka panjang bagi petani. Pasalnya, petani dapat menyewakan erek ke petani lain yang membutuhkan. Kondisi itu seakan menjadi ladang cuan tersendiri. Semakin berkembangnya zaman, erek bahkan mulai dimodifikasi. Erek yang biasanya selebar tubuh orang dewasa justru diperlebar menjadi dua meter. Tujuannya, agar mampu merontokkan padi lebih banyak.
Namun, kejayaan erek habis saat mesin disel menjajah sektor pertanian. Erek yang sebelumnya bertenaga manusia kini berganti menjadi mesin disel. Pengganti erek adalah mesin tleser, yang mengadaptasi perontok padi serupa. Bentuk perontok tleser hampir sama dengan erek, berupa silinder dengan paku. (gas/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja