KULON PROGO - Manajemen SMA Negeri 1 Sentolo akhirnya memberikan klarifikasi terkait dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum satpam sekolah berinisial S (50) terhadap sejumlah siswi.
Pihak sekolah membenarkan bahwa tindakan tidak menyenangkan tersebut disinyalir telah berlangsung berulang kali, namun penanganannya tertahan akibat keterbatasan bukti.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Sentolo, Juhan Wahyudi, menjelaskan bahwa aduan terkait sikap kurang pantas oknum satpam tersebut kerap masuk melalui guru Bimbingan Konseling (BK).
Laporan berulang ini tercatat muncul sejak awal pelaku bertugas di sekolah tersebut.
Baca Juga: Batik IKN Tak Cukup Jadi Ciri Khas, Perajin Didorong Bisa Tembus Pasar Lebih Luas
"Setiap ada perlakuan kurang menyenangkan dari oknum satpam, laporan selalu masuk ke BK. Bentuknya mulai dari memegang tangan hingga sentuhan fisik langsung yang membuat para siswi merasa tidak nyaman," ujar Juhan saat ditemui awak media, Kamis (17/9/2026).
Juhan menegaskan bahwa manajemen sekolah menganggap perbuatan tersebut sebagai pelanggaran berat, mengingat batasan interaksi antara tenaga pendidik atau kependidikan dengan siswa harus dijaga ketat.
Kendati demikian, sekolah mengaku kesulitan mengambil tindakan tegas berupa pelaporan resmi ke pihak penyedia jasa keamanan (outsourcing) karena minimnya bukti konkret seperti rekam medis, saksi mata, maupun rekaman visual.
Guna mengantisipasi kejadian serupa, SMAN 1 Sentolo telah memasang 30 titik kamera pengawas (CCTV) sejak 2022.
Baca Juga: Siswa Angat Bicara di Medsos, Dugaan Pelecehan Seksual SMA Negeri 1 Sentolo Kulon Progo Terbongkar
Upaya ini baru membuahkan hasil pada Agustus lalu, setelah rekaman CCTV memperlihatkan aksi pelaku merangkul pundak seorang siswi di dalam kelas hingga korban merespons kaget dan melarikan diri.
Berbekal bukti rekaman video tersebut, pihak sekolah mengajukan permohonan pemindahtanganan oknum satpam kepada perusahaan penyedia jasa.
Rencananya, pemindahan tugas pelaku baru akan direalisasikan pada awal Oktober mendatang.
Di sisi lain, lambatnya respons sekolah memicu keprihatinan dari kalangan siswa. Salah seorang siswa yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa aksi pelecehan baik secara verbal maupun fisik sudah berlangsung lama dan menyasar banyak korban, termasuk alumni.
Para siswa berharap pihak sekolah dan instansi terkait mengambil langkah tegas berupa pemecatan langsung, bukan sekadar pemindahan lokasi bertugas. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva