KULON PROGO - Puskesmas Temon 2 melakukan penyelidikan ketat pada kasus keracunan yang diduga disebabkan menu makan bergizi gratis (MBG).
Penyelidikan dan penelusuran dilakukan untuk mencari penyebab keracunan. Langkah ini, termasuk mengambil sampel makanan yang masih didapat di beberapa sekolah.
Kepala Puskesmas Temon 2 Viera Junifer Thenu menyampaikan, gejala keracunan berawal dari komunikasi sekolah dengan puskesmas. Sekitar pukul 11.00 , sekolah mengantarkan empat siswa yang mengalami gejala mual muntah.
Baca Juga: Keracunan MBG di Temon Kulon Progo, Menu Ayam Berlendir Sempat Ditarik SPPG
Empat siswa itu kemudian mendapat perawatan. Sambil merawat siswa, pihaknya menerjunkan personel untuk ke MTS Maarif guna menakar dampak keracunan.
"Dugaannya keracunan, tapi penyebabnya belum kami ketahui," ucap Viera, Rabu (16/9).
Viera menjelaskan, Tim Puskesmas Temon 2 yang mengunjungi sekolah swasta itu menemukan 28 siswa begerjala keracunan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah, Persediaan AS Naik Tak Terduga
Mayoritas gejala berupa, pusing, mual, hingga muntah. Namun, untuk diare tak ditemukan pada siswa. Mayoritas siswa bergejala merupakan siswa laki-laki yang telah mengonsumsi MBG.
Dari pemantauan lapangan tersebut, pihaknya dapat menduga awal gejala keracunan. Terlebih Puskesmas Temon 2 sempat mengamankan satu porsi menu MBG dari sekolah penerima. Penambilan sampel dapat dilakukan, mengingat SPPG sempat melakukan penarikan sampel diseluruh sekolah penerima.
"Teman-teman tadi ada membawa satu sampel dari sekolah lain yang bukan terdampak," ungkapnya.
Baca Juga: Menikmati Pesona Gunung Sibayak, Dari Perjalanan Menantang hingga Keindahan Puncak
Kendati telah mendapat sampel makanan, Puskesmas Temon 2 tak mendapat sampel muntahan ataupun tinja. Lantaran, ke empat siswa yang dirujuk ke puskesmas tak mengeluarkan muntahan di faskes tingkat satu itu.
Sehingga pengambilan sampel muntahan atau tinja tak bisa dilakukan. Lantaran, pengambilan sampel harus disaksikan langsung oleh tenaga medis.
Menjelang sore hari, pascasiswa dipulangkan, puskesmas kembali melakukan penelusuran. Menggunakan metode kuesioner, puskesmas meminta sekolah atau siswa untuk mengisi beberapa pertanyaan. Kuesioner tersebut dilakukan untuk mengukur dampak keracunan. (gas)
Editor : Heru Pratomo