KULON PROGO - Selama musim kemarau, warga Padukuhan Kemaras, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih memiliki tradisi unik. Salah satunya tradisi sedot selang demi mendapatkan air bersih. Kegiatan turun temurun ini menunjukkan kebutuhan air bersih tersendat selama musim kemarau.
Dukuh Kemaras Setyawan menyampaikan, kemarau panjang membuat wilayahnya kekurangan air bersih. Terdapat 50-an kepala keluarga yang mengalami krisis air bersih. Untuk memasak, mandi, hingga kebutuhan pokok lain biasanya warga setempat memanfaatkan distribusi air dari Pamsimas ataupun mata air.
Namun musim kemarau membuat debit kedua sumber air itu mengecil dan tak menjangkau ke rumah-rumah warga. "Sekarang warga bergantung ke distribusi bantuan air bersih. Kalau tidak begitu pasti bingung cari air," ucap Setyawan saat ditemui Radar Jogja di salah satu lokasi sedot selang, Selasa (15/9/2026).
Baca Juga: Dicopot! Begini Pidato Sambutan Purbaya Saat Serah Terima Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara
Setyawan menjelaskan, untuk mendapatkan air bersih warga harus menanti bantuan program droping, baik dari instansi ataupun swasta. Dalam seminggu dijadwalkan bantuan disalurkan dua kali dengan rata-rata lima ribu liter untuk sekali penyaluran.
Bantuan air bersih itu tak serta-merta membuat kebutuhan air masyarakat cukup. Jumlah 5.000 liter harus dibagi ke 20-an KK dan dihemat sebaik mungkin.
Di balik ketergantungan masyarakat dengan bantuan air bersih, terdapat tradisi atau kebiasaan dalam menangani kesulitan air bersih. Tradisi bernama sedot selang ini terbentuk dari pola sosial masyarakat perbukitan. Tradisi sedot selang biasanya dilakukan saat musim kemarau.
Selama musim kemarau, warga tak bisa mengandalkan distribusi air bersih reguler. Biasanya distribusi air bersih reguler ditampung ke dalam sebuah bak penampungan komunal, kemudian disalurkan ke rumah-rumah. Namun saat kemarau bak penampungan itu kering.
Baca Juga: Dikukuhkan Jadi Ketum PB ESI, Herindra Bidik Prestasi Esports Lebih Tinggi
Bak penampungan baru terisi kembali apabila terdapat distribusi bantuan air bersih. "Memang dibuat agar disedot pakai mulut, bukan dengan keran air. Kalau pakai keran, nanti yang lain tidak kebagian," ungkapnya.
Tradisi sedot selang sebenarnya menerapkan distribusi air bersih prinsip gravitasi. Bak penampungan terletak di wilayah tertinggi, akan menampung bantuan air bersih. Namun, karena menggunakan prinsip gravitasi, warga perlu menyedot air dari selang terlebih dahulu agar air mengalir ke bawah.
Terdapat puluhan selang sepanjang dua meter yang digunakan untuk menyedot air dari bak. Saat air mengalir, selang tersebut disambungkan ke pipa permanen yang mengarah ke rumah-rumah.
Tradisi sedot selang dilakukan agar distribusi air mengedepankan keadilan dan langkah penghematan. Selang air sengaja diletakkan di bagian atas bak dan bukannya di bawah bak, agar setiap KK melakukan sedot selang.
Baca Juga: Gajah Bobok, Menikmati Sunrise dan Panorama Danau Toba dari Pegunungan Tanah Karo
Di samping itu, selang yang disedot memiliki ukuran yang sama. Tujuannya agar debit air yang mengalir sama dengan keluarga lain. Jika keluarga tak melakukan sedot selang, maka keluarga tersebut dianggap tak membutuhkan.
Salah seorang warga Tuminem mengaku terbiasa dengan tradisi sedot selang. Lantaran setiap kali kemarau dirinya selalu menunggu bantuan air bersih. Saat bantuan disalurkan, lansia itu telah menanti untuk menyedot selang, dan disambungkan ke pipa permanen yang menuju ke rumahnya.
Uniknya dari puluhan selang yang ada, warga tak pernah tertukar dalam menyedot selang. Terkadang warga saling membantu untuk menyedotkan selang ke rumah-rumah lain. "Saged e namung disedot, mboten disedot nggih mboten medal toyone," ungkapnya dalam bahasa Jawa. (gas/laz)
Editor : Herpri Kartun