Dana Terkumpul Rp 19 Juta, Warga Swadaya Bangun Jembatan Cindhe Amoh: Hubungkan Banyuroto-Giripurwo

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 19:21 WIB
KERJA BAKTI: Warga Banyuroto dan Giripurwo membersihkan lokasi calon jembatan yang melewati Sungai Wadas. ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
KERJA BAKTI: Warga Banyuroto dan Giripurwo membersihkan lokasi calon jembatan yang melewati Sungai Wadas. ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

KULON PROGO - Lama tak mendapat kepastian pembangunan jembatan di Sungai Wadas, warga Kalurahan Banyuroto, Nanggulan dan Giripurwo, Girimulyo, memilih membangun Jembatan Cindhe Amoh secara swadaya. Jembatan sepanjang 12 meter dan lebar dua meter itu diharapkan memangkas akses warga yang selama ini harus memutar hingga tiga kilometer.

Perwakilan Warga Herman Priyanto mengatakan, pembangunan jembatan yang nantinya akan dinamai Jembatan Cindhe Amoh itu berasal dari rasa kepedulian warga. Jembatan tersebut berada di perbatasan dua kalurahan dan dua kapanewon. Nantinya, jembatan tersebut menghubungkan Padukuhan Wadas Giripurwo, dengan Padukuhan Ngangin-angin Banyuroto.

"Ini memang keinginan warga, terlihat kerja bakti hari ini dipenuhi warga," ucap Herman, saat ditemui Radar Jogja di calon lokasi jembatan, Minggu (13/9/2026).

Baca Juga: Damkarmat Gunungkidul Catat 146 Kejadian Kebakaran, Kandang Ternak Terbanyak Kedua

Herman menjelaskan, antusias warga dalam pembangunan jembatan swadaya dapat dilihat saat kerja bakti di hari pertama. Sebab, dengan alat seadanya warga mulai membersihkan semak hingga menebang pohon yang menghalangi calon jembatan. Hari pertama kerja bakti berfokus pembersihan dan mengukur bentang jembatan.

Rencana warga, bentang jembatan akan sepanjang 12 meter dengan lebar dua meter. Jembatan direncanakan menggunakan beton dan baja yang dirakit secara gotong royong. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, mengingat dana swadaya cukup terbatas. Pihaknya juga membuka peluang donasi dari warga perantauan atau luar daerah, agar pembangunan cepat selesai.

"Saat ini sudah terkumpul Rp 19 juta, kami membuka peluang jika ada masyarakat lain yang ikut membantu," ujarnya.

Baca Juga: Menapaki Awal Kompetisi, Ze Valente Berharap Para Pemain Baru Bawa Tim Lebih Baik dari Musim Lalu

Semangat warga membangun jembatan swadaya berasal dari kebutuhan infrastruktur. Selama ini, warga perlu memutar sejauh tiga kilometer jika melalui akses normal. Kondisi itu memakan waktu cukup lama, dan jalan yang dilewati dalam kondisi rusak. Pembangunan jembatan diharapkan mampu menunjang aktivitas masyarakat. Terutama petani yang hendak pergi ke lahan tak perlu berjalan memutar.

Dukungan membangun jembatan juga berasal dari jejak rencana pembangunan pada zaman kepemimpinan Soeharto. Sekitar 70-an hingga 80-an, jembatan tersebut beserta jalan penghubungnya direncanakan akan dibangun dan akan berstatus jalan provinsi. Namun setelah pergantian presiden, rencana tersebut tak segera dilanjutkan. Padahal rencana pembangunan infrastruktur sebelumnya mampu menghubungkan dua jalan berstatus kabupaten.

"Sampai sekarang patoknya masih ada, tapi belum ada pembangunan," jelasnya.

Baca Juga: Harga Pengadaan Lebih Terjangkau, Sapi PO Potensial Dikembangkan di Gunungkidul

Herman berharap, pemerintah menanggapi antusias warga dalam membangun jembatan. Jika dimungkinkan, warga berharap agar pemkab ikut membantu dalam pembangunan, melalui beberapa program. Misalnya, padat karya ataupun program lain, karena berhubungan dengan akses warga. (gas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sungai Wadas Bangun jembatan Banyuroto-Giripurwo pembangunan jembatan\ swadaya masyarakat