KULON PROGO - Menu ayam panggang menjadi dugaan kuat penyebab keracunan yang dialami 371 siswa di Kapanewon Nanggulan pada awal Agustus 2026. Hasil uji laboratorium menemukan bakteri staphylococcus aureus yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan dan mual.
Ketua Satgas MBG sekaligus Sekda Kulon Progo Triyono menyampaikan, terus mengawal pelaksanaan program MBG, termasuk menelusuri penyebab kasus keracunan yang terjadi di Nanggulan. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, menyebutkan ayam panggang menjadi penyebab keracunan. Meski demikian, hasil uji tersebut tidak secara langsung menyatakan ayam panggang sebagai penyebab keracunan.
"Sayur sebenarnya bisa menjadi penyebab, tapi resiko paling tinggi berasal dari daging ayam panggang," katanya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Mayat Pria tanpa Identitas Ditemukan Mengambang di Sungai Bawah Jembatan Baru UGM
Triyono menjelaskan, sampel yang diperiksa ke laboratorium berupa muntahan dan feses dari korban. Pihaknya tak bisa mendapatkan sampel makanan, karena satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang bersangkutan tak menyimpan sampel.
Menu ayam panggang dianggap menjadi biang kerok keracunan, atas beberapa temuan selain uji laboratorium. Satgas MBG Kulon Progo menemukan fakta pengolah daging ayam dilakukan sejah dini hari, dan dibagikan secara bertahap.
Untuk distribusi tahap pertama, tak ada laporan kasus keracunan. Namun, pada distribusi tahap kedua pukul 10.00 ditemukan keracunan. Hal ini menunjukkan, lauk ayam panggang berpotensi mendapat kontaminasi ataupun basi.
Baca Juga: Rumah Warga Kebumen Terbakar gegara Kabel Internet Dipakai untuk Instalasi Listrik
"Kalau yang tahap pertama tidak temuan, tahap kedua baru terlihat ada 371 orang yang bergejala," bebernya.
Atas hasil pemeriksaan uji laboratorium itu, satgas MBG segera melaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN). Pihaknya mendorong, agar evaluasi pelaksanaan MBG benar-benar dilakukan. Pasalnya, kasus keracunan MBG di Bumi Binangun terus terulang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo Susilaningsih mengakui, kesulitan mengakses sampel makanan. Sebab, SPPG yang terkait tak melakukan penyimpanan sampel sesuai regulasi BGN. Padahal sampel makanan tersebut berfungsi untuk menentukan penyebab keracunan. "Hasil laboratorium menunjukkan ada bakteri staphylococcus aureus," ungkapnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh
Susi menyampaikan, temuan bakteri dari hasil uji lab menunjukkan penyebab munculnya gejala keracunan. Bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan, hingga rasa mual bagi penderitanya. (gas/wia)