Kisah Tukang Becak Desil 9, Kini Bingung Sekolahkan Anaknya karena Dianggap Mampu

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:37 WIB
KAGET: Anak Timbul menunjukkan status desil yang berubah hingga membuat dirinya terancam tak bisa bersekolah. Anom Bagaskoro/Radar Jogja
KAGET: Anak Timbul menunjukkan status desil yang berubah hingga membuat dirinya terancam tak bisa bersekolah. Anom Bagaskoro/Radar Jogja

 

KULON PROGO - Dampak perubahan desil yang tak sesuai dengan kondisi kesejahteraan keluarga terasa di Kulon Progo. Salah satunya menimpa keluarga Timbul yang tinggal di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Keluarganya kini ditetapkan sebagai desil 9, padahal pekerjaannya adalah tukang becak.

Timbul mengaku tak paham dengan konsep desil yang menentukan kesejahteraan keluarga. Ia baru memahami konsep desil, setelah anaknya menemukan kejanggalan desil. Januari 2026 lalu, desil keluarganya berada di desil 1. Kemudian Juli 2026 desilnya berubah kembali dan naik menjadi desil 9.

Baca Juga: Elche vs Barcelona, Prediksi Skor, H2h dan Susunan Pemain, Rodri Debut?

"Yang mengecek anak saya naik desilnya jadi 9, biasanya satu atau dua," ucap Timbul saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Minggu (23/8).

Timbul menjelaskan, biasanya keluarganya masuk desil 1 atau 2. Bahkan di tahun 2026 ini, ia sempat mendapat beberapa bantuan sosial. Di tahun sebelumnya, bantuan seperti PKH turut didapatnya rutin. Desil di bawah 4, keluarganya merasa terbantu dengan beragam bantuan itu. Kenaikan desil yang mengagetkan tersebut, berpotensi menghilangkan sejumlah bantuan untuk keluarganya.

Angka desil yang masuk ke DTSEN dinilai berbeda jauh dengan kondisi keluarga Timbul. Rumah yang ditinggalinya memang telah terbuat dari dinding bata dan lantai dilapisi keramik. Namun rumah itu merupakan peninggalan orang tua yang harus dibagi untuk enam keluarganya. Termasuk tanah untuk rumah itu masih atas nama orang tua.

Kenaikan desil dari 1 ke 9 dinilai tak wajar. Lantaran, Timbul hanyalah tukang becak yang sering mangkal di Malioboro, Jogja. Pendapatannya sebagai tukang becak tak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. 

Baca Juga: Parenting Ayah SDIT Luqman Al Hakim Hadirkan Ustad Hilmi Firdausi, Bahas Keluarga Bahagia-Surga

Kondisi fisiknya tak mampu mengayuh becak sepanjang hari. Timbul hanya mampu mengayuh becak saat malam hari. "Pekerjaan saya tidak bisa dirata-rata pendapatannya. Kalau dihitung, tiga hari dapat Rp 100 ribu," ucapnya.

Timbul merupakan orang tua tunggal yang menghidupi kedua anaknya. Tentu pendapatan ratusan ribu rupiah terbilang tak cukup. Untuk menghidupi kedua anaknya, ia bahkan terpaksa berjualan kelapa muda di siang hari. Memetik kelapa dari pohonnya, lalu menjualnya di tukang es kelapa muda. Namun, pekerjaan itu ditinggalkan karena tubuhnya tak seperti dulu.

Kini, Timbul mencari peruntungan lain dengan memelihara ayam kampung demi menaikkan pendapatannya. Bekerja sebagai tukang becak dan memelihara ayam kampung dilakukan demi anaknya. Lantaran anak keduanya baru saja masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).

"Anak pertama sudah bekerja, anak kedua sejak awal memang kuliah dan diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)," ungkapnya.

Timbul menceritakan, anaknya diterima di UNY pada Juli 2026 lalu melalui jalur mandiri. Sejak awal, anaknya memang mengincar jurusan Prodi Pendidikan Teknik. Saat pendaftaran, dirinya mempertimbangkan kekuatan finansial. Rencana awal, Timbul hendak mengajukan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk anaknya.

Namun dengan kondisi desil yang berubah pasca anaknya diterima kuliah, membuat keluarganya tak layak menerima beasiswa. Lantaran beasiswa KIP Kuliah diperuntukkan bagi mahasiswa desil 1 hingga 4. 

Baca Juga: Dua Kapal Nelayan Terbalik Diterjang Ombak di Pantai Depok, Empat ABK Selamat

Kini Timbul dan anaknya kebingungan mencari beasiswa. Padahal anaknya tergolong berprestasi dengan nilai akademik ijazah rata-rata 86, dan memiliki prestasi di bidang nonakademik lain.

Sementara itu, Lurah Ngentakrejo Sumardi mengaku kenaikan desil dinilai tak wajar. Tak hanya menimpa keluarga Timbul, tercatat ada delapan laporan kenaikan desil yang tak sesuai dengan kondisi sosial kesejahteraan. 

Timbul hanyalah sebagian warganya, yang mengeluhkan kasus tersebut. "Aslinya banyak yang mengeluhkan. Total yang kami rasa janggal ada delapan KK," ungkapnya.

Sumardi mengaku, kalurahan tak tahu menahu terkait alasan di balik kenaikan desil. Lantaran kewenangan penentuan desil ada di kementerian sosial. Keluhan kenaikan desil yang tak wajar, membuat kalurahan harus bekerja keras untuk mengusulkan perubahan desil. (gas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
DTSEN tukang becak Desil Boks Malioboro