Kisah Tukang Becak Desil Sembilan di Kulon Progo, Bingung Sekolahkan Anaknya Karena Dianggap Mampu

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:18 WIB
KAGET: Anak Timbul menunjukkan status desil yang berubah, membuat dirinya terancam tak bisa bersekolah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 
KAGET: Anak Timbul menunjukkan status desil yang berubah, membuat dirinya terancam tak bisa bersekolah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 

KULON PROGO - Dampak perubahan desil yang tak sesuai dengan kondisi kesejahteraan keluarga terasa di Bumi Binangun. Salah satunya menimpa, Keluarga Timbul, yang tinggal di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Keluarganya kini ditetapkan sebagai desil sembilan, padahal pekerjaannya ialah tukang becak.

Timbul mengaku tak paham dengan konsep desil yang menentukan kesejahteraan keluarga. Ia baru memahami konsep desil, setelah anaknya menemukan kejanggalan desil. Januari 2026 lalu, desil keluarganya berada di desil satu. Kemudian Juli 2026, desilnya berubah kembali dan naik menjadi desil sembilan.

"Yang mengecek anak saya naik desilnya jadi sembilan, biasanya satu atau dua," ucap Timbul, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Minggu (23/8).

Timbul menjelaskan, biasanya keluarganya masuk desil satu atau dua. Bahkan di tahun 2026 ini, ia sempat mendapat beberapa bantuan sosial. Di tahun sebelumnya, bantuan seperti PKH turut didapatnya rutin. Desil di bawah empat keluarganya merasa terbantu dengan beragam bantuan tersebut. Kenaikan desil yang mengagetkan tersebut, berpotensi menghilangkan sejumlah bantuan untuk keluarganya.

Baca Juga: Angkat Potensi Warga dan UMKM Lokal, Kalurahan Giwangan Adakan Pawai Budaya dan Gelar UMKM

Angka desil yang masuk ke DTSEN dinilai berbeda jauh dengan kondisi keluarga Timbul. Rumah yang ditinggalinya memang telah terbuat dari dinding bata dan lantai dilapisi keramik. Namun, rumah tersebut merupakan peninggalan orangtuayang harus dibagi untuk enam keluarganya. Termasuk tanah untuk rumah tersebut masih atas nama orangtua.

Kenaikan desil dari satu ke sembilan dinilai tak wajar. Lantaran, Timbul hanyalah tukang becak yang sering mangkal di Malioboro. Pendapatannya sebagai tukang becak tak bisa dibandingkan dengan yang lainnya. Kondisi fisiknya tak mampu mengayuh becak sepanjang hari. Timbul hanya mampu mengayuh becak saat malam hari.

"Pekerjaan saya tidak bisa dirata-rata pendapatannya, kalau dihitung tiga hari dapat Rp 100 ribu," ucapnya.

Timbul merupakan orangtua tunggal yang menghidupi kedua anaknya. Tentu, pendapatan ratusan ribu rupiah terbilang tak cukup. Untuk menghidupi kedua anaknya, ia bahkan terpaksa bejualan kelapa muda di siang hari. Memetik kelapa dari pohonnya, lalu menjualnya di tukang es kelapa muda. Namun, pekerjaan itu ditinggalkan karena tubuhnya tak seperti dulu.

Baca Juga: Viral Video Pelajar SMP Diduga Dikeroyok di Pantai Sepanjang, Berawal Saling Ejek di WhatsApp

Kini Timbul mencari peruntungan lain dengan memelihara ayam kampung, demi menaikkan pendapatannya. Bekerja sebagai tukang becak dan memelihara ayam kampung dilakukan demi anaknya. Lantaran, anak keduanya baru saja masuk ke perguruan tinggi negeri.

"Anak pertama sudah bekerja, anak kedua sejak awal memang kuliah dan diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)," ungkapnya.

Timbul menceritakan, anaknya diterima di UNY pada Juli 2026 lalu melalui jalur mandiri. Sejak awal, anaknya memang mengincar jurusan Pendidikan Teknik. Saat pendaftaran, dirinya memang mempertimbangkan kekuatan finansial. Rencana awal, Timbul hendak mengajukan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk anaknya.

Namun, dengan kondisi desil yang berubah pasca anaknya diterima membuat keluarganya tak layak menerima beasiswa. Lantaran, beasiswa KIP Kuliah diperuntukan bagi mahasiswa desil satu hingga empat. Kini Timbul dan anaknya kebingungan mencari beasiswa. Padahal anaknya tergolong berprestasi dengan nilai akademik ijazah rata-rata 86, dan memiliki prestasi di bidang non akademik lain.

Baca Juga: Roberto De Zerbi Klaim Tottenham Hotspur Belum Menjadi Sebuah Tim yang Utuh

Sementara itu, Lurah Ngentakrejo Sumardi mengaku kenaikan desil dinilai tak wajar. Tak hanya menimpa keluarga Timbul, tercatat ada delapan laporan kenaikan desil yang tak sesuai dengan kondisi sosial kesejahteraan. Timbul hanyalah sebagian warganya, yang mengeluhkan kasus tersebut.

"Aslinya banyak yang mengeluhkan, total yang kami rasa janggal ada delapan KK," ungkapnya.

Sumardi mengaku, kalurahan tak tahu menahu terkait alasan di balik kenaikan desil. Lantaran, kewenangan penentuan desil ada di Kementerian Sosial RI. Keluhan kenaikan desil yang tak wajar, membuat kalurahan harus bekerja keras, untuk mengusulkan perubahan desil. (gas)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Miskin jadi kaya Orang mampu tukang becak Desil