KULON PROGO - Momen HUT ke-81 Republik Indonesia identik dengan upacara bendera. Biasanya di ruang lapang dengan pencahayaan jelas nan terang. Namun, hal ini tak ditemui dalam upacara di Gua Kiskendo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo. Upacara digelar dalam kondisi gelap di ruang sempit dengan stalaktit dan stalakmit saksinya.
Upacara bendera dalam gua di Perbukitan Menoreh itu diadakan oleh para pelaku wisata dan pengunjung. Radar Jogja berkesempatan mengabadikan momen unik nan menantang itu. Pasalnya, upacara bendera di dalam goa membutuhkan upaya besar.
Upacara diawali dengan perjalanan menuju lokasi yang terletak di Gua Sumitro, berjarak sekitar 100 meter dari Gua Kiskendo. Berbeda dengan Gua Kiskendo dengan mulut terbuka lebar, jalan masuk Gua Sumitro hanya berupa lubang berdiameter dua meter dengan kedalaman sekitar 15 meter.
Baca Juga: Polres Kebumen Tetapkan Tersangka Perundungan Teman Satu SMK dengan Status ABH, Pelaku Terancam 3,5
"Harus menggunakan helm, harness, wearpack, karena keselamatan paling utama," ucap pemandu Gua Sumitro Muhammad Sodiqul Arif saat menjelaskan terkait prosesi menuruni jalan masuk, Senin (17/8/2026).
Kondisi jalan masuk yang hanya berupa lubang vertikal membuat prosesi masuk harus menggunakan metode repling. Metode ini digunakan untuk mengatasi medan vertikal tegak lurus. Tentu peserta yang berjumlah tujuh orang dan tiga pemandu perlu mengenakan sejumlah alat keamanan.
Body harness yang melekat rapat lalu dikaitkan dengan karabiner yang tersambung ke tali karmantel. Sejumlah pengunjung yang mengikuti trip ini sempat grogi. Lantaran baru kali pertama merasakan pengalaman menuruni tebing yang dalam.
Untungnya, pemandu memberikan pendampingan dan memberikan pengarahan hingga pengunjung sampai di bawah. Setelah menggantung turun dari tebing sekitar lima menit, pengunjung langsung dihadapkan dengan ruang gaa yang sempit, gelap, dan dingin yang menusuk.
Baca Juga: Polres Kebumen Tetapkan Tersangka Perundungan Teman Satu SMK dengan Status ABH, Pelaku Terancam 3,5
Sesekali muncul suara tetesan air dari balik dinding, dan suara aliran air. Mengingat Gua Kiskendo dan Gua Sumitro saling terhubung dengan sungai bawah tanah.
"Perjalanan baru dimulai, perhatikan langkah kaki karena kita akan melewati lorong sempit dengan berbagai produk alam berumur ribuan tahun," ucapnya.
Perkataan Arif bukan tanpa sebab. Kawasan Gua Kiskendo merupakan laboratorium alam gunung api purba dan batu gamping yang terbentuk dari tumbukan antarlempeng hingga membuat rongga serta sungai bawah tanah.
Rongga yang mengandung batu gamping itu bermetamorfosis menjadi gua. Hal ini disebabkan air hujan yang mengandung zat asam tinggi meluruhkan batuan gamping. Proses yang terjadi selama ribuan tahun itu membentuk dinding, lantai hingga plafon gua dipenuhi stalaktit, stalagmit, hingga pilar yang dulunya merupakan tetesan air. Bahkan terdapat mutiara gua yang terbentuk dari proses panjang tersebut.
Setiap pengunjung wajib memperhatikan langkah dan gerakan mereka. Lantaran jika menyenggol batuan gua, berpotensi merusak warisan alam itu. Batuan dari tetesan air bisa saja patah dengan hanya senggolan kecil. Bahkan hanya sekadar memegang, pengunjung dilarang melakukan.
Baca Juga: Siswa SMK asal Sleman Terpilih Jadi Komandan 17 di Istana Merdeka, Pemkab Siapkan Apresiasi
Sentuhan manusia dapat mematikan proses pembentukan batuan akibat zat kimia asam yang dikeluarkan tubuh. Penuh kehati-hatian tak cukup untuk menelusuri lorong. Pengunjung juga harus berpacu dengan kegelapan, dan ruang sempit.
Gambaran ruang sempit berupa lorong panjang dengan lebar dua meter dan tinggi satu setengah meter. Beberapa pengunjung terpaksa menunduk dan berjalan merangkak untuk melewati lorong tersebut.
Selain menjaga kelestarian batuan, pengunjung juga diharap menjaga ekosistem di kawasan gaa. Ada beberapa jenis hewan yang hidup di area gaa, mulai dari kelelawar, hingga aneka serangga. Sehingga, jalur yang digunakan tak boleh mengganggu aktivitas hewan tersbut.
Setelah menyusuri lorong panjang gaa sekitar 20 meter, pengunjung barulah sampai ke lokasi upacara. "Pengunjung memang sengaja tidak kami beritahu kalau akan mengikuti upacara," ungkapnya.
Baca Juga: Pieter Huistra Optimistis PSS Sleman Tatap Kompetisi Musim 2026/2027
Pengelola wisata mengaku tak memberikan informasi bahwa pengunjung akan melakukan upacara bendera. Hal itu dilakukan agar pengunjung merasakan pengalaman mendalam berkegiatan di dalam gaa, dan menjadi pengalaman seumur hidup.
Upacara bendera dimulai dengan mengibarkan bendera Merah Putih yang dilakukan salah seorang pengunjung dan guide. Dengan aba-aba, lagu Indonesia Raya mulai dinyanyikan tanpa suara lantang tapi tetap jernih. Bukan backsound lagu, nyanyian justru diiringi suara gemericik air.
Momen itu cukup spesial bagi salah seorang pengunjung asal Kabupaten Madiun Andini Sulistyani. Kali pertama mengikuti upacara di dalam gua memberikan pengalaman tersendiri. Andini bahkan turut menjadi pengibar bendera dadakan.
Baca Juga: Pieter Huistra Optimistis PSS Sleman Tatap Kompetisi Musim 2026/2027
"Tidak menyangka bakalan upacara di sini. Pengalaman pertama masuk gua dan pengalaman upacara di sini," ungkapnya.
Selama mengikuti upacara, Andini mengaku khidmat saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Keheningan dan minim cahaya membuat dirinya lebih berkonsentrasi serta menghayati setiap bait lagu karya WR Supratman itu. Angan-angannya terbang jauh mengingat sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.
Di sisi lain, dirinya juga teringat akan perjalanan menuju ke lokasi. Perjalanan yang harus berhadapan dengan kegelapan, jalan terjal dan licin memberikan kenangan tersendiri. Bahkan jika dibuka trip kembali saat HUT RI, maka dia akan ikut serta. (gas/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja