Sengatan Terik Berganti Dingin Karst: Upacara HUT RI Tak Biasa di Kegelapan Menoreh Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 13:17 WIB
KHIDMAT: Wisatawan menggelar upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mereka berbaris rapi dan hormat ke bendera merah putih di Gua Kiskendo, Bukut Menoreh, Kulon Progo. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
KHIDMAT: Wisatawan menggelar upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mereka berbaris rapi dan hormat ke bendera merah putih di Gua Kiskendo, Bukut Menoreh, Kulon Progo. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Di saat jutaan pasang mata menatap tiang bendera di lapangan terbuka di bawah sengatan terik matahari, sekelompok orang memilih cara tak biasa untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI.

Merayap di lorong gelap, menyusuri perut bumi Kulon Progo, dan mengheningkan cipta bersama gemericik air bawah tanah.

Di mulut Gua Sumitro, matahari Agustus seketika kehilangan tajinya.

Yang tersisa di hadapan sepuluh orang, tujuh wisatawan dan tiga pemandu, hanya lubang vertikal berdiameter dua meter yang menganga selebar 15 meter ke bawah.

Baca Juga: Alisson Becker Tegaskan Ambisi Liverpool: Bermimpi Besar, Tetap Kerja Keras

Tak ada karpet merah atau panggung megah, melainkan tebing batu licin dan kegelapan dingin yang siap menyapa.

"Harus memakai helm, harness, dan wearpack. Keselamatan tetap yang utama," cetus Muhammad Sodiqul Arif, pemandu yang memimpin ekspedisi mendebarkan tersebut pada Senin (17/8/2026).

Satu per satu peserta mulai menggantung di tali karmantel.

Degupan dada yang cepat bercampur sedikit rasa grogi perlahan mencair berganti decak kagum begitu kaki menapak di dasar gua.

Di sanalah keajaiban ribuan tahun membentang.

Jemari stalaktit dan stalakmit yang menggantung megah, diapit dinding batu gamping purba yang terus meneteskan air asam pembentuk gua.

Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai.

Pria dan wanita dalam rombongan itu harus merayap menunduk melintasi lorong sempit setinggi 1,5 meter.

Baca Juga: HUT RI ke-81, Ahmad Luthfi Tegaskan Kemerdekaan Harus Dirasakan Lewat Kesejahteraan

Di kanan-kiri mereka, ekosistem sensitif, mulai dari koloni kelelawar hingga formasi batuan karang yang tak boleh tersenggol sedikit pun, menuntut kehati-hatian tingkat tinggi.

Menariknya, para wisatawan tak pernah diberitahu apa yang menanti mereka di ujung lorong sepanjang 20 meter tersebut.

Pengelola sengaja menyimpan kejutan manis ini agar menjadi kenangan seumur hidup.

Ketika perjalanan merayap berakhir di sebuah ruang gua yang temaram, kibaran Sang Saka Merah Putih disiapkan secara spontan.

Tanpa pengeras suara berdaya tinggi atau backsound rekaman, lagu Indonesia Raya berkumandang jernih.

Suara nyanyian peserta berpadu indah dengan irama gemericik air sungai bawah tanah yang menghubungkan Gua Sumitro dan Gua Kiskendo.

Baca Juga: Brimob Polda DIY Guncang Semangat Kemerdekaan di Simpang Giwangan, Kibarkan Bendera di Atas Rantis

Bagi Andini Sulistyani, wisatawan asal Madiun yang mendadak ditunjuk menjadi pengibar bendera, momen tersebut menghadirkan getaran yang tak biasa.

"Tidak menyangka bakalan upacara di sini. Keheningan dan minimnya cahaya justru membuat saya lebih fokus dan menghayati setiap bait lagu Indonesia Raya," tuturnya haru.

Di kegelapan perut bumi Perbukitan Menoreh itu, kemerdekaan tak lagi dirayakan dengan kemewahan seremonial, melainkan diresapi lewat keheningan, perjuangan menembus batas diri, dan ketakjuban pada warisan alam Nusantara.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Kegelapan Menoreh karst Kulon Progo upacara hut ri Gua Kiskendo