Sambut HUT Ke-81 RI, Perajin Batik asal Kapanewon Lendah Ciptakan Batik Bhinneka Tunggal Ika

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:00 WIB
KREATIF: Bayu bersama pekerja Sembung Batik menunjukkan hasil Karya Batik Bhinneka Tunggal Ika. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
KREATIF: Bayu bersama pekerja Sembung Batik menunjukkan hasil karya batik Bhinneka Tunggal Ika. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

KULON PROGO - Memperingati HUT Ke-81 RI, perajin batik asal Kapanewon Lendah kembali membuat karya seni dan budaya berbentuk batik. Seperti tahun sebelumnya, batik berukuran jumbo kembali dibuat dengan menonjolkan unsur Bhinneka Tunggal Ika.

Pemilik Sembung Batik Bayu Permadi menjelaskan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sanggar batik miliknya kembali membuat karya untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Batik tahun ini, menonjolkan semboyan atau moto bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Indonesia burung garuda. Simbol ini sengaja ditonjolkan sesuai  dengan isu terkini Indonesia.
 
Baca Juga: Kaji Usulan Perluasan Desil Sankem, Dinsosnakertrans Kota Jogja Hitung Ulang Kemampuan APBD

"Apa pun situasi Indonesia, kami kemas menjadi karya," ucap Bayu, saat ditemui di Sanggar Sembung Batik, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Rabu (12/8).

Batik bertema Merajut Membangun Kebhinekaan ini mengisyaratkan tanggapan atas kondisi sosial masyarakat ini. Di era digitalisasi dan kondisi global yang dinamis, masyarakat dinilai mudah menyalahkan orang lain. Padahal tak semua pendapat atau persoalan selalu dinilai salah atau benar, tetapi dilihat dari tujuannya.

Batik Bhinneka memiliki panjang 8,1 meter dengan lebar tiga meter. Batik tersebut dimulai dengan tahapan desain, logo burung garuda menjadi pusat desain awal. Desain tersebut, kemudian digambar menggunakan pensil di atas kain. Ada sekitar 10 pembatik yang membuat karya berukuran jumbo.
 
Baca Juga: Lautan Manusia di RW 57 Jurugsari, Ketika Senam Sehat HUT RI Satukan Mahasiswa, Seniman, dan Lansia

Tahapan paling sulit dimulai saat menuangkan malam di lembaran kain ukuran jumbo. Setelah penuangan malam batik, pembatik langsung mewarnai kain dalam waktu cukup cepat, sekitar dua jam. Dibutuhkan kerja keras, mengingat warna batik gampang menempel di kain. "Butuh waktu sebulan dari desain hingga penuangan malam, kalau pewarnaan hanya sehari," ungkapnya.

Bayu menjelaskan, pembuatan batik juga melibatkan masyarakat sekitar sanggar. Namun dana untuk pembuatan ditanggung sanggarnya, sebesar Rp 8 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk biaya malam, kain, hingga pewarna. Pihaknya berharap agar batik dapat ikut serta dalam pameran Undagi. Lantaran, batik Bhinneka merupakan kado spesial dari Sembung Batik untuk Indonesia. (gas)
 
 
Editor : Sevtia Eka Novarita
HUT ke-81 RI Kapanewon Lendah perajin batik Batik bhinneka tunggal Ika