22 KK di Padukuhan Banaran, Kulon Progo Terdampak Kekeringan, 5.000 Liter Air Cukup untuk Tiga Hari

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:00 WIB
SOLUSI JANGKA PENDEK: Warga saat menunggu tampungan dipenuhi droping air bersih di Padukuhan Banaran, Pendoworejo, Girimulyo Rabu (12/8). (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 
SOLUSI JANGKA PENDEK: Warga saat menunggu tampungan dipenuhi droping air bersih di Padukuhan Banaran, Pendoworejo, Girimulyo Rabu (12/8). (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)  

KULON PROGO - Kemarau panjang mulai berdampak pada sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Padukuhan Banaran, Pendoworejo, Girimulyo. Mata air dan sumur warga mengalami penurunan debit, sehingga kebutuhan air bersih kini bergantung pada droping pemerintah.

Setiap pekan, satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter didistribusikan ke Banaran. Air tersebut ditampung dalam tandon yang kemudian digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, pasokan air biasanya hanya bertahan sekitar tiga hari. Setelah itu, warga kembali mengandalkan mata air yang debitnya semakin mengecil atau menunggu distribusi berikutnya.

Baca Juga: Jogja Fashion Week 2026 Hadirkan 15 Fashion Show, Ruang Baru Desainer Muda hingga 82 Tenant

Warga Banaran Sutiyo, 83, mengatakan, wilayahnya rutin mengalami kekeringan saat kemarau. Namun, tahun ini kondisi dirasakan semakin berat karena sumber air yang sebelumnya menjadi andalan warga mulai menyusut. “Kalau kemarau pasti sulit air. Kalau dulu masih bisa ambil air dari wilayah Giripurwo,” ujarnya Rabu (12/8).

Kondisi tersebut membuat warga harus menempuh jarak hingga 500 meter untuk mengambil air dari mata air yang masih tersisa. Medan yang sulit menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi warga lanjut usia. Sutiyo mengaku kini lebih mengandalkan droping air karena tidak lagi memiliki tenaga seperti dulu untuk mengambil air secara rutin.

Baca Juga: PSG Lebih Diunggulkan, Unai Emery Tetap Pede Aston Villa Rebut UEFA Super Cup

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengatakan, droping air menjadi langkah jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemkab juga menyiapkan tambahan anggaran karena kemarau panjang berpotensi terjadi pada 2026. "Selain bersumber APBD, kami juga bekerja sama dengan Baznas (untuk droping, Red)," ungkapnya. (gas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
padukuhan pandanaran Kekeringan kemarau droping air bersih