Dugaan Keracunan MBG Nanggulan Tembus 178 Orang, Dinkes Kulon Progo Kesulitan Uji Sampel Makanan

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:59 WIB
Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO – Korban dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, melunjak hingga mencapai 178 orang yang terdiri dari 176 siswa dan dua tenaga pendidik.

Meski data korban telah terkumpul, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mengalami kendala dalam menguji sampel makanan.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh dari hasil penelusuran kuesioner yang menyasar 549 penerima manfaat MBG setelah laporan dugaan keracunan muncul pada Selasa (4/8/2026).

Baca Juga: Benjamin Mendy Jual Replika Trofi Piala Dunia 2018, Jawab Santai Kritik Warganet

"Jumlah terdampak ada 176 siswa dan dua tenaga pendidik," ujar Susilaningsih, Kamis (6/8/2026).

Dari hasil survei kuesioner, indikasi kuat penyebab keracunan mengarah pada menu MBG lauk ayam panggang.

Kendati demikian, Dinkes tetap harus membuktikannya melalui pengujian laboratorium terhadap sampel makanan yang disimpan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulon Progo, Clara Dyah Rintaka, membeberkan kronologi peristiwa tersebut.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Distribusi Air Bersih BPBD Gunungkidul Melonjak Jadi 216 Tangki

Peristiwa bermula saat SMK Negeri 1 Nanggulan menerima distribusi MBG pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 10.45 WIB.

Menu yang disajikan meliputi nasi putih, ayam panggang, sayur jagung gambas, tempe goreng, dan buah belimbing.

"Siswa SMKN 1 Nanggulan mengonsumsi MBG sekitar pukul 11.30 WIB," jelas Clara.

Gejala keracunan baru terdeteksi setelah pihak sekolah mendata banyaknya siswa yang absen.

Selain itu, ditemukan sekitar 70 siswa yang berada di sekolah mengeluhkan gejala serupa, dan belasan di antaranya harus menjalani rawat jalan di Puskesmas Nanggulan.

Baca Juga: Cibiran Terhadap Pasien BPJS Juga Dilakukan Perawat RSA UGM, Tim Etik Lakukan Pemanggilan

Dari penelusuran lapangan ke pihak SPPG, Dinkes menemukan bahwa proses memasak dilakukan dalam dua kloter.

Kloter pertama diproses pukul 01.00–04.00 WIB untuk jenjang Posyandu, PAUD, TK, dan SD.

Sementara kloter kedua dimasak pukul 05.00–08.00 WIB untuk tingkat SMP dan SMA.

Dugaan sementara Dinkes, makanan kloter pertama berpotensi tertukar dengan kloter kedua sehingga lauk yang dikonsumsi siswa SMA sudah melebihi batas waktu aman simpan.

Baca Juga: Igor Tolic Waspadai Serangan Balik Persebaya Meski Percaya Diri dengan Ketajaman Persib

Namun, proses pembuktian terhambat karena Dinkes tidak menemukan sampel ayam panggang dari kloter kedua saat melakukan pengambilan sampel di food bank SPPG.

"Sampel ayam panggang tidak ditemukan, SPPG beralasan kekurangan makanan," ungkap Clara.

Akibatnya, Dinkes hanya mendapatkan sampel makanan dari kloter pertama, sementara pengujian laboratorium tetap berjalan tanpa sampel lauk utama yang diduga menjadi sumber keracunan. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Korban Keracunan MBG Tertinggi Mbg Nanggulan Kulon Progo Dinkes Kulon Progo