KULON PROGO - Jembatan Sesek di Padukuhan Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah kembali hadir. Jembatan dengan panjang ratusan meter ini, menjadi sendi aktivitas masyarakat. Ini karena mampu memangkas waktu dan jarak tempuh.
Pengelola Jembatan Sesek Temben Sumarno mengatakan, jembatan sesek rutin dibuka selama musim kemarau. Saat kemarau, debit air Sungai Progo mengecil. Sehingga, warga membentuk kelompok untuk memfasilitasi pembangunan jembatan. Keberadaan jembatan ini telah berlangsung selama puluhan tahun terakhir.
"Jembatan Sesek Temben sebenarnya turun temurun, walau hanya saat kemarau," ucap Sumarno, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: Polisi Masih Menyelidiki Penemuan Bayi di Semak-Semak Belakang Rumah Warga Kemejing Semin
Walau hanya ditemui saat air surut, warga menganggap Jembatan Sesek Temben merupakan warisan orang tua yang terus diturunkan. Pasalnya, jembatan tersebut menjadi urat nadi aktivitas masyarakat, baik Kulon Progo ataupun Bantul. Keberadaan jembatan untuk mempermudah akses masyarakat.
Semangat gotong royong dari kelompok pengelola setiap tahun selalu mewujudkan jembatan. Berbekal pengalaman pembangunan tahun sebelumnya, Jembatan Sesek Temben dibuat dengan rangka bambu sebagai tiang.
Sedangkan untuk dasaran jalan, memanfaatkan papan kayu. Kombinasi kedua bahan ini diikat dengan besi dan tali sehingga mampu menanggung beban kendaraan sepeda motor.
Untuk membangun jembatan tersebut, kelompok pengelola menerapkan swadaya dana. Total anggaran pembangunan mencapai Rp 50 juta. Lantaran, material bangunan tergolong sulit didapat.
Salah satunya papan kayu dari pohon mangga. Selain itu, pembuatan jembatan memakan waktu hampir sebulan. Hampir seluruh material bekas jembatan tahun lalu tersapu air banjir Sungai Progo.
"Tahun ini lebih panjang hampir dua kali lipat, panjang Jembatan Sesek Temben mencapai 160 meter," ungkapnya.
Sumarno mengaku, jembatan tahun ini terpanjang dalam sejarah. Pasalnya, rata-rata panjang jembatan sesek di Padukuhan temben tak lebih dari 100 meter. Tahun 2025 lalu, panjang jembatan hanya berkisar 90 meter.
Namun, abrasi lereng Sungai Progo membuat lebar sungai ikut memanjang. Alhasil, ukuran jembatan perlu ditambah.
Baca Juga: Baru Satu yang Mendaftar, Tiga Kalurahan di Bantul Perpanjang Pendaftaran Calon Lurah
Keberadaan Jembatan Sesek Temben dianggap sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat sekitar. Pasalnya, jembatan tersebut mampu memangkas waktu perjalanan hingga 15 menit. Selama musim penghujan, masyarakat tak bisa melalui jembatan sesek.
Mereka terpaksa berjalan memutar ke Jembatan Kamijoro dan Srandakan yang jaraknya kurang lebih dua sampai empat kilometer dengan medan berbukit.
Pemanfaatan jembatan sesek dapat dilihat saat jam berangkat dan pulang kantor. Jam padat kendaraan terjadi pada pukul 06.00 dan 16.00. Rata-rata jembatan sesek mampu melayani 500 kendaraan setiap harinya.
Banyaknya pengguna dipengaruhi oleh tarif dan manfaat yang diberikan. Pengelola sebenarnya tak mematok tarif jembatan untuk penyebrangan. Namun, pengguna memberikan uang sukarela sebesar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu.
Baca Juga: Puncak Musim Kemarau, Personel dan Peralatan Diperkuat untuk Hadapi Karhutla di Kebumen
"Setiap bulan Agustus, jembatan juga dihias dengan merah putih," ungkapnya.
Keunikan Jembatan Sesek Temben tak hanya berkaitan dengan bentuknya. Namun dari ornamen hiasan. Lantaran, jembatan sesek memiliki ornamen bendera merah putih untuk menyambut hari kemerdekaan. Termasuk pemasangan lampu hias dan penerangan.
Pemandangan ini kerap didokumentasikan masyarakat sekitar. Pasalnya, jembatan dengan bendera merah putih dikombinasikan dengan landscape Sungai progo cukup indah dipandang.
Saat musim kemarau seperti ini, jembatan juga menjadi spot wisata dadakan. Banyak warga sekitar hingga luar daerah sengaja mengunjungi Jembatan Sesek Temben. Terlebih jembatan kini dilengkapi perahu yang dapat mengantarkan pengunjung untuk berkeliling di sekitaran Sungai Progo.
Sementara itu, pengguna Jembatan Sesek Temben Yulianti mengaku merasa terbantu dengan fasilitas dadakan itu. Perempuan yang bekerja di Kabupaten Bantul itu rutin melewati jembatan saat musim kemarau. Lantaran, saat musim penghujan jembatan ditutup. "Memangkas waktu sekitar 15 menit," ungkapnya.
Yuli mengaku, tak masalah mengeluarkan uang Rp 2 ribu lantaran, uang tersebut sebanding dengan penghematan waktu dan BBM yang dikeluarkan jika berjalan memutar.
Mengingat jika jalan memutar, dirinya perlu melewati Jembatan Sapon yang jaraknya jauh sekitar 2 kilometer. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita