Lakukan Penelusuran, Puskemas Nanggulan Kulon Progo Sempat Merawat  17 Siswa SMKN 1 Nanggulan dengan Gejala Keracunan 

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:07 WIB
PENELUSURAN: Petugas Puskesmas Nanggulan melakukan wawancara ke manajemen SMKN 1 Nanggulan. Anom Bagaskoro/Radar Jogja
PENELUSURAN: Petugas Puskesmas Nanggulan melakukan wawancara ke manajemen SMKN 1 Nanggulan. Anom Bagaskoro/Radar Jogja

 


KULON PROGO - Puskesmas Nanggulan telah melakukan perawatan untuk belasan siswa SMKN 1 Nanggulan  yang diduga mengalami keracunan, Selasa (4/8).

Selain perawatan, puskesmas turut melakukan penelusuran pada kasus dugaan keracunan usai mengonsumsi MBG. 

Kepala Puskesmas Nanggulan Wira Utami Pratiwi menjelaskan, temuan kasus dugaan keracunan berawal dari siswa SMKN 1 Nanggulan yang meminta perawatan ke pihaknya.

Tak hanya satu orang, puskesmas merawat beberapa siswa dengan gejala serupa. 

Baca Juga: Tiga Pengusaha asal Lendah Bangun Jembatan Apung dari Tong Bekas di Atas Sungai Progo, Bisa Hubungkan Dua Kabupaten

Dari situ, pihak puskesmas mulai menelusuri jejak keluhan siswa lain. "Awalnya siang pukul 11.00, Selasa (4/8) siswa ke puskesmas," ucap Pratiwi, Rabu (5/8). 

Ia menyampaikan, penelusuran telah dilakukan dan terus berproses. Hasil sementara menunjukkan 70 siswa SMKN 1 Nanggulan mengalami gejala keracunan.

Di antaranya, mengeluhkan sakit perut, mual muntah, hingga diare. Dari 70 siswa, 17 orang sempat mendapat perawatan di puskesmas. 

Perawatan untuk belasan siswa dilakukan untuk meringankan gejala keracunan. Belasan siswa itu dipastikan mengeluhkan diare. Puskesmas telah melakukan penanganan dengan pemberian obat anti diare. 

Di samping itu, Puskesmas Nanggulan hingga kini terus melakukan penelusuran dampak keracunan dengan mendatangi sejumlah sekolah penerima.

"Sejak muncul keluhan siswa, kami segera melakukan investigasi bersama dinas kesehatan," ungkapnya. 

Sebelum penelusuran dampak keracunan, puskesmas dan dinkes telah melakukan investigasi awal ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dari SPPG membeberkan, proses masak menu MBG terbagi dalam dua tahap.

Tahap pertama dianggap normal, karena tak ada temuan gejala. Sedangkan tahap kedua didapati temuan gejala. 

Baca Juga: Mitos Gunung Merapi: Mbah Petruk, Sosok Gaib Penjaga Merapi yang Dipercaya Beri Peringatan Lewat Mimpi 

Selain mengonfirmasi proses memasak, dinkes turut mengambil sampel makanan. Sampel itu akan diuji di laboratorium kesehatan. Namun sampel muntahan hingga kini belum didapat puskesmas.

Lantaran sampel muntahan tak ditemukan selama proses pemeriksaan. 

Sementara itu, siswi SMKN 1 Nanggulan Rahayu Putri mengaku sempat merasakan diare pada Selasa (4/8) dini hari. Saat di rumah, remaja ini mulai merasakan diare hingga harus bolak-balik ke kamar mandi.

Walau dengan kondisi kurang sehat, Putri tetap memaksakan untuk bersekolah. "Badan lemes karena diare, kurang tau penyebab pastinya. Sempat makan MBG dan juga ke kantin," ungkapnya. 

Baca Juga: Jadi Korban Laka Lantas, Penantian Anida Warga Gunungkidul Tiga Setengah Tahun Akhirnya Terjawab: Santunan Jasa Raharja Cair

Siswi kelas 12 itu awalnya menganggap diare sebagai hal lumrah. Namun saat mengetahui teman sekelas merasakan hal serupa, ia memastikan ada kejadian keracunan.

Tak hanya segelintir siswa yang merasakan, hampir seluruh siswa dalam satu kelas turut merasakan mual muntah, hingga diare. Hal ini diperkuat dengan absennya satu siswa di kelasnya. 

Putri tak bisa berburuk sangka terkait penyebab diare yang dialaminya. Namun kuat dugaan penyebabnya ialah menu MBG. Pasalnya, selama tiga tahun bersekolah, dirinya selalu makan makanan kantin tanpa ada keluhan.

 Baru setelah munculnya MBG, Putri mengaku tak cocok dengan menu yang ditawarkan. Terkadang masakan asin hingga hambar. (gas/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Nanggulan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG)