Tiga Pengusaha asal Lendah Bangun Jembatan Apung dari Tong Bekas di Atas Sungai Progo, Bisa Hubungkan Dua Kabupaten

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 18:55 WIB
Pengendara kendaraan bermotor melintasi jembatan apung di atas Sungai Progo di Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, kemarin (5/8). Jembatan apung tersebut mempermudah mobilitas warga Kulon Progo dan Bantul yang hendak menyeberangi Sungai Progo. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja 
Pengendara kendaraan bermotor melintasi jembatan apung di atas Sungai Progo di Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, kemarin (5/8). Jembatan apung tersebut mempermudah mobilitas warga Kulon Progo dan Bantul yang hendak menyeberangi Sungai Progo. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja 

 


KULON PROGO - Masyarakat Kapanewon Lendah memiliki cara unik dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur. Mulai dari membuat jembatan dadakan dari bambu, hingga membuat jembatan apung.

Seperti yang dilakukan tiga pengusaha asal Kalurahan Ngentakrejo yang membuat jembatan apung. Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul ini bahkan mampu menampung kendaraan roda empat bertonase satu ton. 

Inisiator Jembatan Apung Kulon Progo-Bantul Sukidi Tresno Utomo mengaku, pembuatan jembatan berawal dari keresahan pengusaha tahu di Kapanewon Lendah.

Baca Juga: Pabrik Limbah Kayu Dilalap Jago Merah, Padam Usai Tujuh Jam, Damkar Kabupaten Magelang Terkendala Minim Air

Puluhan pengusaha tahu dari Lendah setiap tahunnya rutin mengeluhkan kesulitan infrastruktur untuk menuju pasar. Lantaran hasil produksi tahu biasanya dipasarkan di wilayah Kabupaten Bantul dan Kota Jogja.

Mereka harus menempuh jarak sekitar lima hingga 10 kilometer demi mengakses jembatan terdekat. Padahal dari sisi geografis, akses sebenarnya lebih dekat jika terdapat jembatan dari wilayah tengah Kapanewon Lendah. 

"Akhirnya saya dan dua teman saya yang merupakan pengusaha tahu menginisiasi jembatan," ucap Sukidi saat ditemui Radar Jogja di lokasi, Rabu (5/8). 

Pria paruh baya baya yang merupakan pengusaha tenda itu lantas membuat gambar desain jembatan apung. Tak seperti gambar teknik, Sukidi hanya membuat gambar praktis yang langsung dikerjakan oleh tukang las.

Kemampuannya dalam merancang jembatan berasal dari pengalaman puluhan tahun. Lantaran ia ikut serta dalam pembangunan Jembatan Sesek Temben. 

Baca Juga: Mitos Gunung Merapi: Mbah Petruk, Sosok Gaib Penjaga Merapi yang Dipercaya Beri Peringatan Lewat Mimpi 

Keunikan jembatan ini terletak pada material dasar konstruksi. Sukidi sengaja memanfaatkan tong bekas untuk menopang badan jembatan. Tong itu sengaja diisi angin bertekanan agar dapat mengapung dia tas air.

Tong plastik dan besi disusun dan disambung dalam satu rangkaian dengan kanal baja. Dalam satu rangkaian terdapat lima tong. Rangkaian itu kemudian disambung dengan besi tambahan, serta dipekuat dengan tali besi untuk menambatkan jembatan agar tak tersapu air Sungai Progo. 

Pembuatan jembatan apung telah dimulai sejak tahun 2025 lalu, dengan menelan anggaran Rp 150 juta. Biaya itu ditanggung Sukidi dan kedua pengusaha tahu. Jembatan sempat beroperasi pada tahun 2025, namun terputus akibat banjir Sungai Progo.

Untungnya, material jembatan masih tertambat dan tak menimbulkan kerugian. "Bersyukur bisa dimanfaatkan banyak orang, tidak hanya pengusaha tahu di sini," ucapnya. 

Baca Juga: Kasus Viral Pasien BPJS Yurizal, Salah Nakes atau Salah Sistem?

Sukidi mengaku bersyukur saat jembatan apung dimanfaatkan masyarakat luas. Terutama kendaraan roda empat yang selama ini harus memutar mencari jembatan utama. Jembatan Apung Kulon Progo-Bantul rata-rata dilewati 30 hingga 50 kendaraan setiap harinya.

Pengelola sebenarnya tak mematok tarif bagi pengguna jembatan. Terkadang kendaraan roda empat memberikan uang Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Uang itu digunakan untuk biaya perawatan, sekaligus membayar petugas keamanan jembatan. 

Sementara itu, pengguna jembatan apung Suwardi mengaku terbantu dengan fasilitas itu. Pasalnya, kendaraan roda empatnya tak harus melewati jalan memutar. Setiap harinya, dia rutin mengangkut serutan kayu untuk bahan bakar produksi tahu.

"Kalau lewat Srandakan atau Bantar bisa belasan kilometer. Habis waktu 30 menit dan habis bahan bakar," ungkapnya. 

Ia mengaku jembatan apung mampu menurunkan ongkos BBM dan memangkas waktu perjalanan. Terlebih tarif yang dibayarkan sangat terjangkau. Dalam sekali lewat ia cukup membayar Rp 10 ribu. (gas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
ngentakrejo lendah jembatan sungai progo