Tak ada yang memimpikan berprofesi menjadi petugas sedot WC. Tapi bagi petugas di Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo hal itu menjadi bagian dari pengabdian. Meski butuh waktu untuk terbiasa dan tidak jijik.
Setiap hari Hendra Gustanto, operator layanan sedot WC DPUPKP Kulon Progo rutin memanasi truk tangki tinja. Truk tangki berukuran empat ribu liter itu, menjadi rekannya selama sembilan tahun terakhir. Saat mendapat panggilan dari pelanggan, truk tersebut langsung dikendarainya menuju rumah warga.
Melewati jalan sempit, hingga perbukitan truk mengantarkannya ke sebuah rumah warga di Kapanewon Nanggulan. Sesampainya di lokasi, pria paro baya itu langsung bertemu dengan pelanggan. Namun, pelanggan justru tak mengetahui lokasi pasti septic tank yang hendak disedot.
Lantaran, bangunan rumah dan septic tank telah berumur lebih dari 25 tahun serta terjadi perubahan. "Kendala di lapangan seperti ini, lokasi septic tank tidak diketahui, akhirnya kami mengandalkan pengalaman," ucap Hendra, Minggu (2/8).
Berbekal pengalaman sembilan tahun, Hendra mengukur dan memperkirakan lokasi septic tank serta bak kontrol. Tangannya yang memegang cangkul mulai menggali sejumlah titik yang langsung menjelaskan titik septic tank. Tak butuh waktu lama untuk membuka septic tank dari situlah muncul aroma tak enak menyeruak.
Hendra tanpa ragu meminta agar pelanggan menjauh dari titik septic tank. Lantaran, aroma yang muncul merupakan gas metana yang telah mengendap puluhan tahun.
Baca Juga: Mikel Arteta Bungkam soal Vinicius Junior, namun Tegaskan Arsenal Siapkan Transfer Besar
Bagi sebagian orang aroma itu dapat mengagetkan hidung, bahkan ada kejadian orang tak kuat menahan hingga pingsan. Di samping itu, gas metana mudah terbakar apabila tersulut percikan api.
Memastikan lubang septic tank aman, Hendra langsung menyiapkan pipa dan selang sedot. Bersama dengan kucuran air, tinja dalam septic tank yang telah berbentuk lumpur langsung disedot dengan pompa dari truk tinja.
Terkadang sedotan pompa tinja tak kuat menarik lumpur, karena selang tersumpal akar pohon, hingga material padat lain. "Kadang tersumbat akar, pembalut, hingga barang aneh lain, paling banyak palu atau martil," ungkapnya.
Baca Juga: Manchester United Bangkit Kalahkan Atletico Madrid 2-1, Bryan Mbeumo Jadi Pahlawan Kemenangan
Jika tersumbat barang padat, Hendra perlu membersihkan sumbatan dengan tangan. Tentu bau dan kotoran akan menempel di tangannya. Namun, hal itu dianggapnya lumrah sebagai bagian pekerjaan. Tugasnya tak hanya menyedot lumpur tinja. Sebelum pulang, profesi sedot WC harus memastikan saluran WC tak mampet lagi.
Pekerjaan Hendra baru selesai apabila semua aspek telah terpenuhi. Mulai dari pengembalian septic tank seperti semula, kebersihan, hingga kepuasan pelanggan. Di beberapa rumah, selesai dengan pekerjaannya Hendra kerap diberi makanan dan minuman.
Tanpa mempedulikan pekerjaan sebelumnya, Hendra menghargai pemberian pelanggan dengan menyantap hidangan yang disajikan.
Baca Juga: Xabi Alonso Sambut Kembalinya Mykhailo Mudryk setelah Menangi Banding atas Sanksi Doping
"Kalau dulu awal-awal mual, tidak mau makan karena masih teringat bentuknya (tinja) dan aromanya," ungkapnya yang mengaku awalnya butuh tiga bulan untuk penyesuaian.
Hendra sempat berbagi tips ke pelanggan agar septic tank awet dan tak mudah tersumbat. Perawatan rutin berupa menggelontorkan air yang banyak agar tinja tak mengumpul di saluran yang membuat mampet.
Selain itu, pelanggan diminta tak membuang benda padat seperti pembalut yang dapat menyumbat saluran.
Baca Juga: PSS Sleman Resmi Umumkan Kapten Tim Nasional Burundi, Christophe Nduwarugira Sebagai Rekrutan Anyar
Sementara itu, Kepala UPTD Rumah Susun Sewa DPUPKP Kulon Progo Daryana menjelaskan, pemkab memiliki layanan sedot WC yang terjangkau dibandingkan swasta.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan sedot WC sesuai kebutuhan dimulai dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 375 ribu. Tak hanya melakukan penyedotan, pihaknya turut mengolah tinja hasil sedotan di TPA Banyuroto. (pra)
Editor : Heru Pratomo