Dampak Kemarau, Warga Clapar 1 Kokap Kulon Progo Kesulitan Mencari Air Bersih

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 17:15 WIB
MUSIM KEMARAU: Warga di perbukitan Menoreh, Eka, sedang mengisi jerigen air dari tandon komunal untuk kebutuhan rumah tangga. Selama musim kemarau banyak warga kesulitan memperoleh air bersih. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
MUSIM KEMARAU: Warga di perbukitan Menoreh, Eka, sedang mengisi jerigen air dari tandon komunal untuk kebutuhan rumah tangga. Selama musim kemarau banyak warga kesulitan memperoleh air bersih. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

 

KULON PROGO - Dalam dua bulan terakhir, Padukuhan Clapar 1, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap dilanda kekeringan. 

Musim kemarau membuat warga Perbukitan Menoreh itu, menghadapi kesulitan air bersih. 

Kondisi ini juga diperparah dengan prediksi kemarau panjang yang akan melanda tahun 2026 ini.

Salah satu warga Suradi menjelaskan, kekurangan air bersih telah terjadi semenjak kemarau dimulai.

Baca Juga: Usai Putusan Praperadilan, Kuasa Hukum Langsung Proses Pembebasan Raudi Akmal dari Tahanan

Sekitar dua bulan lalu, hujan telah berhenti di wilayah Clapar 1.

Warga sebenarnya sempat menampung air hujan demi persiapan menghadapi musim kemarau.

Namun, tampungan mereka hanya cukup untuk beberapa minggu saja.

"Sudah sekitar dua bulan kesulitan air bersih, ditambah pasokan air dari Pamsimas juga tersendat," ucap Suradi, saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/7/2026). 

Suradi menjelaskan, setiap musim kemarau, warga Clapar 1 selalu kesulitan mencari air bersih.

Baca Juga: Laskar Mataram Punya Striker Anyar Asal Spanyol, Ini Catatan Menterengnya

Biasanya di awal kemarau, warga dapat mengandalkan pasokan air dari Penyedia Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Namun, kemarau kali ini penyaluran air bersih dari Pamsimas terkendala.

Lantaran, debit air sumur yang dipompa untuk air bersih terus mengalami penurunan.

Keluarga Suradi mengaku terpaksa harus mencari sumber mata air demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Setiap harinya, Suradi dan beberapa warga lain harus membawa jerigen ke mata air sejauh satu kilometer, untuk memperoleh air bersih.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Jepang, Peringatan Tsunami Dikeluarkan untuk Wilayah Kyushu

Selain mencari sumber mata air, warga Clapar 1 bergantung pasokan air bersih dari bantuan program dropping air.

Dalam seminggu, program dropping air dari pemerintah atau swasta sebanyak dua kali.

Namun, program ini tak mampu menjawab kebutuhan air bersih masyarakat.

Lantaran, jumlah yang didistribusikan hanya cukup untuk beberapa hari saja.

Hal serupa juga diungkapkan Eka Pranawa, yang mengaku rutin mengambil air dari penampungan air bersih hasil program dropping.

Baca Juga: ‎Usai Dilaporkan WALHI, Pemkab Gunungkidul Mulai Cermati Dugaan Pelanggaran 13 Industri Wisata

Menurutnya, setiap kemarau Padukuhan Clapar 1 selalu dilanda kekeringan.

Pasalnya, wilayahnya terletak di daerah perbukitan yang tidak terjangkau jaringan PDAM Tirta Binangun. 

"Kalau setiap hari pasti bawa jerigen, mengambil air dari toren," ungkapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Warga Clapar 1 Kesulitan Mencari Air Bersih dampak kemarau Kulon Progo musim kemarau