Kerja Bakti Berujung Kebakaran, 1 Hektare Lahan di Bukit Menoreh Kulon Progo Ludes

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:00 WIB
Kebakaran lahan di Padukuhan Parakan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo,  Sabtu (25/7/2026). (Kolase TikTok/relawandesasidomulyo)
Kebakaran lahan di Padukuhan Parakan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Sabtu (25/7/2026). (Kolase TikTok/relawandesasidomulyo)

 

 


RADAR JOGJA - Niat baik warga Padukuhan Parakan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, untuk bergotong royong membersihkan lingkungan menyambut Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Sabtu (25/7/2026), justru berujung buruk.

Sampah hasil kerja bakti, yang sebagian besar berupa daun-daunan, dikumpulkan di lahan kosong untuk dibakar.

Namun hal ini justru memicu kebakaran lahan di kawasan Perbukitan Menoreh.

Dukuh Parakan, Sigit Prihadi, menuturkan api yang awalnya kecil menjadi tak terkendali setelah tertiup angin di tengah cuaca panas.

Api itu akhirnya merembet ke lahan sekitarnya.

Baca Juga: Kasus Ayah Tewas Dikeroyok karena Diduga Curi Ayam di Bali Jadi Sorotan, Ini Kata Rocky Gerung, Melly Goeslaw, dan Habib Ja'far 

Akibatnya, dua lahan warga yang saling bersebelahan ikut terbakar. Total luas yang terbakar mencapai sekitar 1 hektare.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo, kasus kebakaran di kabupaten ini justru terbanyak terjadi pada Maret dan Juli 2026, masing-masing mencatatkan 9 kejadian.

Sebagai perbandingan, April mencatat 8 kejadian, Juni 4 kejadian, Februari 3 kejadian, dan Januari hanya 1 kejadian.

Kepala Seksi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Kulon Progo, Raden Chris Hartanto, menyebut mayoritas kebakaran ini berupa kebakaran lahan.

Baca Juga: Pawai Budaya Sumatera Utara Semarakkan Malioboro, Angkat Pesan Keberagaman

Penyebab dominannya adalah aktivitas membakar sampah di lahan terbuka yang ditinggal sebelum api benar-benar padam.

Mantan Kepala BMKG periode 2017-2025, Dwikorita Karnawati, mengingatkan Indonesia tengah memasuki periode paling kritis musim kemarau pada Juli hingga September 2026. Probabilitas El Nino berkembang ke kategori kuat hingga 80 persen.

Ia menyebut Agustus berpotensi menjadi bulan dengan cakupan wilayah kekeringan yang meluas bahkan berpotensi terus meningkat, sehingga risiko kebakaran lahan dan sampah diperkirakan ikut melonjak.

Dengan tradisi kerja bakti menyambut 17 Agustus yang bakal digelar serentak di berbagai wilayah DIY dalam beberapa pekan ke depan, dua insiden ini jadi pengingat penting bagi warga dan panitia kegiatan serupa.

Baca Juga: Kontroversi Unggahan UC.You di Threads Picu Perdebatan soal Etika Berpendapat di Media Sosial

Beberapa langkah sederhana bisa membantu mencegah kejadian serupa terulang:

1. Hindari membakar sampah saat angin kencang
2. Jangan tinggalkan titik pembakaran sebelum api benar-benar padam sepenuhnya
3. Siapkan air atau alat pemadam sederhana di lokasi
4. Pertimbangkan alternatif pengelolaan sampah organik seperti dikumpulkan untuk kompos daripada dibakar langsung di lahan terbuka.


Jangan sampai niat baik membersihkan lingkungan justru berisiko berbalik menjadi bencana baru bagi warga sekitar. 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Kerja Bakti Berujung Kebakaran 1 Hektare Lahan bukit menoreh Kulon Progo kerja bakti