Dampak Keracunan MBG di Wates Kulon Progo Meluas, Bumil hingga Ibu Menyusui Ikut Jadi Korban

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 21:19 WIB
Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih. Anom Bagaskoro/Radar Jogja
Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih. Anom Bagaskoro/Radar Jogja

 

KULON PROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo resmi mengeluarkan hasil pemantauan atas dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kapanewon Wates.

Hasilnya, gejala keracunan juga terlihat pada penerima MBG di segmen ibu hamil (bumil) dan menyusui. 

Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih menjelaskan, proses pemantauan dampak keracunan terus dilakukan hingga saat ini dan esok hari.

Baca Juga: Sultan HB X Jadi Korban Scam Rekayasa AI, Diskominfo DIY Pastikan Video 100 Persen Palsu

Pasalnya, temuan Dinkes menunjukkan masa inkubasi dan munculnya gejala pasca-32 jam konsumsi. Alhasil, pihaknya perlu memperpanjang masa pemantauan. 

 "Hasil pemantauan kemarin ada 105 orang yang bergejala. Detailnya 98 siswa dan empat pendidik SMPN 3 Wates, satu ibu hamil serta dua ibu menyusui," ucap Susi, panggilannya, saat ditemui di Kantor Bupati Kulon Progo, Rabu (22/7). 

Ia menjelaskan, ratusan orang tercatat itu berasal dari hasil pemantauan dan tracer puskesmas. Setiap penerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni diminta mengisi google form.

Baca Juga: Dishub DIY Pastikan Dampingi JLFR Akhir Juli ini, Pesepeda Diizinkan Melintasi Jalan Malioboro Jogja

Hingga saat ini, pengisian kuesioner google form belum ditutup. Lantaran masih terdapat temuan gejala yang dilaporkan melalui kuesioner.

Di antaranya,  satu siswa dari SDN Sogan, satu siswa MI Maarif Wates, dan dua siswa serta dua tenaga pendidik dari SDN Darat. 

 Dari ratusan korban itu, gejala paling dominan adalah sakit perut, diare, dan pusing. Rentang waktu timbulnya gejala juga cukup bervariasi, mulai empat jam hingga 32 jam.

Dari ratusan korban itu, 27 siswa SMPN 3 wates telah mendapat perawatan di Puskesmas Wates dan langsung dipulangkan, Selasa (21/7) lalu. 

Keesokan harinya, siswa sudah kembali bersekolah. Hanya satu siswa yang masih merasakan gejala. "Untuk ibu hamil dan ibu menyusui, gejalanya tidak parah," ungkapnya. 

Distribusi MBG dari SPPG Karangwuni tak hanya menyasar ribuan siswa. Melainkan juga menyasar ibu menyusui dan ibu hamil yang didistribusikan melalui kader Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).

Baca Juga: PSS Sleman Sudah Punya Sembilan Pemain Asing, Dimas Drajad Juga Telah Berlatih Bersama Tim

Dua ibu menyusui dari Posyandu Anggrek Karangwuni mengalami gejala pusing ringan. Sedangkan satu ibu hamil dari Posyandu Marsudi Siwi mengalami mual muntah hingga diare.

Dari gejala yang ringan, dampak mual muntah yang dialami ibu hamil dipastikan tak berdampak. Terlebih nyeri di bagian perut dinilai dengan status masuk trimester dua tak akan berdampak ke kontraksi rahim. 

Kendati masih taraf gejala ringan, Dinkes tetap meminta ibu hamil untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pasalnya, mual atau muntah dapat membahayakan tubuh karena dehidrasi.

Baca Juga: PSIM Jogja Tak Muluk Tatap Musim Kedua di Super League, Yuliana Tasno; Kalau Bisa seperti Musim Lalu Saya Sudah Bersyukur

"Kami belum bisa menetapkan kejadian luar biasa (KLB)," ungkapnya. 

Kendati timbul ratusan korban bergejala, Dinkes Kulon Progo belum mengambil sikap untuk penetapan kasus KLB. Sebenarnya, KLB dapat ditetapkan apabila telah timbul lebih dari dua korban dengan kesamaan penyebab.

Namun belum terbuktinya MBG sebagai penyebab keracunan, menjadi alasan penetapan KLB tidak dilakukan. (gas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Mbg Dinkes Kulon Progo SPPG bumil