KULON PROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mengumumkan hasil pemantauan dugaan kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kapanewon Wates.
Hasilnya, gejala keracunan bukan hanya ditemukan pada siswa sekolah namun juga penerima MBG di segmen ibu hamil dan menyusui.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih menjelaskan, proses pemantauan dampak keracunan terus dilakukan.
Temuan Dinkes Kulon Progo menunjukkan bahwa masa inkubasi dan munculnya gejala keracunan, pasca 32 jam konsumsi menu MBG.
Dengan demikian masa pemantauan bakal diperpanjang.
Baca Juga: Prediksi Skor Egnatia vs Celje Leg Pertama Kualifikasi Liga Champions Kamis 23 Juli 2026
"Hasil pemantauan kemarin ada 105 orang yang bergejala, detailnya 98 siswa dan empat pendidik SMPN 3 Wates, satu ibu hamil, serta dua ibu menyusui," ucap Susi, saat ditemui di Kantor Bupati Kulon Progo, Rabu (22/7/2026).
Susi menjelaskan, ratusan orang tercatat itu berasal dari hasil pemantauan dan tracer puskesmas.
Setiap penerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni diminta mengisi google form.
Berdasarkan data pemantauan per 22 Juli 2026, data masuk kuesioner sekitar 700 penerima MBG.
Korban keracunan per 21 Juli 105 orang, bertambah pada 22 Juli menjadi 111 orang.
Korban Berasal dari empat sekolah, dan dua Posyandu dar total penerima MBG sekitar 2.000 orang.
Hingga saat ini, pengisian kuesioner google form belum ditutup.
Lantaran, masih terdapat temuan gejala yang dilaporkan melalui kuesioner.
Di antaranya, satu siswa dari SDN Sogan, satu siswa MI Maarif Wates, dan dua siswa serta dua tenaga pendidik dari SDN Darat.
Dari ratusan korban itu, gejala paling dominan ialah, sakit perut, diare, dan pusing.
Rentang waktu timbulnya gejala juga cukup bervariasi, mulai dari empat jam hingga 32 jam.
Dari ratusan korban itu, 27 siswa SMPN 3 wates telah mendapat perawatan di Puskesmas Wates dan langsung dipulangkan, Selasa (21/7/2026) lalu.
Keesokan harinya, siswa sudah kembali bersekolah, hanya satu siswa yang masih merasakan gejala.
Baca Juga: Rektor UKI dan Pengamat Intelijen UI: Indonesia Perlu Regulasi Anti-Spionase Asing
"Untuk ibu hamil dan ibu menyusui, gejalanya tidak parah," ungkapnya.
Distribusi MBG dari SPPG Karangwuni tak hanya menyasar ribuan siswa.
Melainkan menyasar ibu menyusui dan ibu hamil yang didistribusikan melalui kader Posyandu.
Dua ibu menyusui dari Posyandu Anggrek Karangwuni mengalami gejala pusing ringan.
Sedangkan satu ibu hamil dari posyandu Marsudi Siwi mengalami mual muntah hingga diare.
Dari gejala yang ringan, dampak mual muntah yang dialami ibu hamil dipastikan tak berdampak. Terlebih nyeri dibagian perut dinilai dengan status masuk trimester dua tak akan berdampak ke kontraksi rahim.
Kendati masih taraf gejala ringan, Dinkes tetap meminta ibu hamil untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pasalnya, mual atau muntah dapat membahayakan tubuh karena dehidrasi.
"Kami belum bisa menetapkan Kejadian luar biasa (KLB)," ungkapnya.
Kendati timbul ratusan korban bergejala, Dinkes Kulon Progo belum mengambil sikap untuk penetapan kasus KLB.
Baca Juga: Bukan Hasil Salon, Ini Fakta Menarik Selkirk Rex si Kucing Berbulu KeritingBaca Juga: Bukan Hasil Salon, Ini Fakta Menarik Selkirk Rex si Kucing Berbulu Keriting
Sebenarnya, KLB dapat ditetapkan apabila telah timbul lebih dari dua korban dengan kesamaan penyebab.
Namun, belum terbuktinya MBG sebagai penyebab keracunan menjadi alasan penetapan KLB tidak dilakukan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva