KULON PROGO - Jalan tingkat desa di Bumi Binangun segera mulus 2026. Pasalnya, puluhan kalurahan di Bumi Binangun menerima kucuran anggaran untuk program padat karya. Terdapat dua skema program padat karya, yaitu padat karya berumber APBD Kulon Progo 2026 dan bantuan keuangan khusus (BKK) dana keistimewaan (Dais).
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulon Progo Tri Wahyudi menjelaskan, sejumlah kalurahan telah dan akan menerima program padat karya untuk pembangunan infrastruktur. Terdapat dua program padat karya, yaitu Padat Karya Hibah Tuwanggana (LPMKal), dan Padat Karya BKK Dais.
"Untuk padat karya hibah tuwanggana sebagian sudah selesai, tapi ada yang baru berjalan," ucap Tri, saat ditemui Radar Jogja, Senin (20/7).
Baca Juga: Disperindag Kabupaten Sleman Jamin Perlindungan Konsumen lewat Pengawasan Depot Air Minum Isi Ulang
Padat karya hibah tuwanggana berasal dari APBD Kulon Progo 2026. Terdapat 39 titik padat karya yang tersebar di 10 kapanewon. Lima belas titik padat karya dinyatakan telah rampung pembangunan. Sedangkan 24 titik lainnya masih tahap pengadaan barang dan pembangunan.
Program padat karya berfokus pada penyediaan infrastruktur di tingkat kalurahan. Khusus yang bersumber APBD, padat karya harus berdasarkan usulan tuwanggana atau kalurahan ke Disnaker Kulon Progo. Pasca-usulan, Disnaker akan melakukan seleksi lokasi dan penilaian kelayakan. Apabila memenuhi kriteria, maka kalurahan dapat memperoleh program.
Selain padat karya sumber APBD, terdapat 39 titik lain padat karya bersumber BKK Dana Keistimewaan. Program ini, mulai memasuki tahapan sosialisasi. Namun, sebagian lain masuh tahapan pekerjaan. "Enam lokasi sudah mulai pengerjaan," ungkapnya.
Menurutnya, program padat karya berfokus pada penyediaan infrastruktur di tingkat kalurahan. Pekerjaan infrastruktur berupa pengecoran jalan dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Sehingga masalah kualitas dapat dipastikan mutu dan waktunya. Rerata per titik padat karya mampu menghasil 300 meter jalan desa, dengan waktu pengerjaan satu bulan.
Selain itu, padat karya merupakan program dalam upaya mengurangi pengangguran. Pasalnya, pekerja padat karya harus berasal dari wilayah padukuhan atau kalurahan setempat. Tentu selama pekerjaan terdapat upah yang memiliki standar.
Carik Hargomulyo Anton Yunianto menjelaskan, kalurahan telah menerima program padat karya BKK Dais 2026. Program ini telah mulai, dan dijadwalkan akan memakan waktu pengerjaan hingga sebulan kedepan.
"Panjangnya 300 meter, ketebalan beton 12 cm, dan lebarnya 2,75 meter," ungkapnya.
Anton menjelaskan, padat karya mendapat alokasi anggaran Rp 175 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk membeli material hingga membayar upah pekerja untuk pengecoran jalan di Padukuhan Tangkisan 1. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo