Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Empat SD Negeri di Kulon Progo Tak Mendapat Murid Baru

Anom Bagaskoro • Kamis, 16 Juli 2026 | 15:12 WIB
IDENTITAS: Papan nama SDN Pendem yang tak mendapatkan satu murid pada SPMB 2026. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
IDENTITAS: Papan nama SDN Pendem yang tak mendapatkan satu murid pada SPMB 2026. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Krisis siswa melanda beberapa sekolah di Bumi Binangun.

Memasuki masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) sekolah dasar negeri melaporkan tak mendapat murid baru pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo Nur Hadiyanto menjelaskan, sekolah-sekolah memasuki MPLS pada pertengahan Juli 2026.

Namun, didapati sejumlah sekolah yang tetap menggelar MPLS walau tak memiliki siswa baru di kelas 1.

Baca Juga: Saparan Bekakak Digelar Jumat, Satlantas Sleman Terapkan Rekayasa Lalu Lintas di Gamping

"Ada tujuh sekolah dasar (SD) yang tidak mendapat siswa baru, empat SD negeri dan tiga SD swasta," ucap Nur, Kamis (16/7).

Empat sekolah negeri yang tak mendapat siswa baru, yaitu SDN Pendem, SDN 2 Balong, SDN Ngaliyan, dan SDN Wijimulyo Lor.

Sedangkan sekolah swasta, diantaranya SD Bopkri Gunung Ijo, SD Kristen Plampang, serta SD Kanisius Pelem Dukuh.

Nur menjelaskan, krisis siswa pada Tahun Ajaran 2026/2027 telah sesuai perdiksi pihaknya. Di tahun sebelumnya, krisis tak terlalu terlihat.

Baca Juga: ALVA Siap Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Radar Jogja, CMO dan PR Manager Datang Langsung

Pasalnya, belum ada kejadian sekolah tidak mendapat siswa baru. Namun, setelah meninjau sejumlah data krisis siswa dapat diukur.

Salah satu indikator yang dapat mengukur krisis siswa adalah angka kelahiran.

Rata-rata angka kelahiran di Bumi Binangun mengalami penurunan sebesar 2,2 persen. 

Khusus pada Kapanewon Samigaluh, Kokap, dan Girimulyo penurunan dikisaran 3,8 persen.

Penurunan angka kelahiran berdampak ke pertumbuhan anak usia sekolah dasar.

Kini Bumi Binangun tak hanya menghadapi zero growth anak usia sekolah, tapi minus growth.

Jika ditarik lebih jauh lagi, penyebab minus growth adalah keberhasilan program KB.

Baca Juga: Targetkan Toko dan Pendatang, Modus 'Iuran PSN Gadungan' Rp30 Ribu di Godean Ternyata Kasus Lama yang Terus Berulang

Tahun 90-an satu keluarga dapat memiliki lebih dari dua anak.

Namun, semenjak program KB ada keluarga memilih tak memiliki banyak anak.

"Tahun 1970-an era baby boom, pemerintah saat ini mengupayakan pembangunan banyak sekolah," ungkapnya.

Krisis siswa juga diperparah oleh jejak pembangunan sekolah di masa lalu. Saat angka kelahiran melonjak drastis pada 1970-an, pemerintah memberikan layanan pendidikan dasar.

Munculnya sekolah inpres menjadi salah satu contohnya. Kondisi ini memicu banyaknya sekolah di pedesaan dan perkotaan yang dibangun.

Baca Juga: Bali United Resmi Umumkan Tim Geypens Sebagai Rekrutan Anyar

Kini sekolah-sekolah tersebut mulai banyak ditinggalkan akibat penurunan jumlah penduduk.

Sementara itu, Ketua Komisi 4 DPRD Kulon Progo Edi Priyono menjelaskan, pemkab idelanya harus melakukan evaluasi untuk menanggapi krisis siswa.

Tak hanya pemetaan angka kelahiran atau anak usia sekolah, pemkab perlu evaluasi sistem pendidikan.

Lantaran, kualitas sekolah seringkali menjadi penyebab orangtua menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.

"Pemkab juga perlu menungkat kualitas layanan pendidikan," ungkapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Krisis Siswa Disdikpora Kulon Progo Kulon Progo MPLS