Olahraga tradisional Obah Owah merupakan permainan tradisional asli dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sangat patut untuk dilestaikan. Permainan ini sarat akan makna filosofis Jawa, memiliki unsur pendidikan, dan sangat baik untuk melatih intelegensi serta ketangkasan fisik dan fokus.
Secara bahasa (bahasa Jawa), nama permainan ini memiliki arti, obah (bergerak) dan owah (berubah atau berpindah).
Secara filosofis, nama ini mencerminkan esensi kehidupan manusia yang harus terus bergerak (obah) dan adaptif terhadap perubahan zaman (owah) agar bisa bertahan hidup dan berkembang.
Permainan ini mengunakan piranti yang ada saat panen padi, yaitu orang-orangan sawah (memedi sawah), jerami, untaian padi, hingga alu, dan tenggok tempat padi.
Permainan ini memadukan unsur kecepatan, konsentrasi, dan koordinasi antar pemain. Biasanya dimainkan secara berkelompok di area terbuka.
Permainan ini terdiri dari dua tim dan dimainkan empat orang. Pemain harus melakukan gerakan-gerakan tertentu atau berpindah posisi berdasarkan komando atau aba-aba khusus.
Pemain berlomba mengambil alu dan sarung dengan berjalan secara duduk menggunakan tangan. Setelah berhasil mendapatkan alu, tiga pemain berjalan bersama dilingkari sarung.
Aba-aba sering kali mengecoh. Ketika pemimpin permainan memberikan instruksi untuk "obah" atau "owah", pemain harus merespons dengan gerakan atau perpindahan yang sesuai secara cepat. Siapa yang salah gerakan atau terlambat berpindah posisi akan dinyatakan gugur atau berganti peran menjadi penjaga.
Sebagai bagian dari kekayaan budaya DIY, Obah Owah tidak hanya sekadar permainan rekreatif, tetapi juga memiliki fungsi edukatif, yaitu:
1. Melatih motorik dan ketangkasan, gerakan refleks yang cepat sangat dibutuhkan dalam permainan ini.
2. Meningkatkan konsentrasi, pemain dituntut fokus mendengarkan instruksi agar tidak terkecoh oleh lawan atau pemimpin permainan.
3. Membangun jiwa sportivitas dan kerja sama karena sering dimainkan secara berkelompok, permainan ini mempererat kebersamaan dan interaksi sosial.
Tahun 2018, Kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diwakili oleh tim dari Kabupaten Kulon Progo membawakan permainan ini dalam ajang Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional XI yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Jambi pada tanggal 6–9 Juli 2018.
Baca Juga: Hair Croissant Viral, MUI Tegaskan Visual Produk Jadi Pertimbangan Sertifikasi Halal
Olahraga tradisional Obah Owah sukses meraih prestasi tertinggi sebagai Juara 1 Tingkat Nasional dengan nilai 629,62. Urutan kedua milik Provinsi Gorontalo yang menyajikan permainan olahraga tradisional Mo Dandta dengan nilai 623. Kemudian Bengkulu dengan Eket Daet mengantongi nilai 619,3 di tempat ketiga.
Nilai tertinggi yang diperoleh Obah Owah dari juri nasional bukanlah tanpa alasan. Permainan tradisional ini dinilai sangat kuat dalam menjaga keaslian budayanya dengan membawa atmosfer panen raya Kulon Progo ke atas panggung melalui properti seperti tenggok, alu, hingga memedi sawah.
Selain itu, performa mereka dinilai memenuhi standar paket lengkap, mulai dari kekompakan, ketangkasan, hingga sisi intelegensi dan edukasi. Ditambah lagi dengan ritme permainan yang dinamis— para pemain harus estafet berjongkok dan kompak melangkah di dalam sarung dengan latar gamelan bertempo cepat membuat juri dan penonton tak henti terpukau.